Menjadi Referensi Mendunia

Berbalas Pantun, Peserta SDN Kawalo Memberi Kesan Kuat di Festival Budaya Taliabu

Indonesiaberita.com, TALIABU – Cerita kemeriahan hari ketiga gelaran Festival Budaya Taliabu tingkat SD dan SMP yang diselengarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pulau Taliabu (Pultab), Maluku Utara (Malut) rasanya tidak mudah lekang dari ingatan.

Selain riuh suara penonton yang semakin ramai dan adu kreativitas para peserta lomba yang malam itu kian sengit, rangkaian lomba berbalas pantun menggunakan bahasa daerah Taliabu memberi kesan tersendiri dari gelaran ferstival di Gelangang Olahraga (GOR) Kota Bobong, Taliabu Barat (Talbar).

Sorak sorai serta tepuk tangan penonton kian membahan ketika pasangan peserta nomor urut 331, Sumaryono Masno dan Adelina Umaternate perwakilan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Kawalo dipersilahkan oleh pembawa cara untuk ke atas panggung.

Dengan tenang keduanya, Sumaryono dan Adelina yang malam itu nampak mengenakan pakaian adat  kemudian melangkah beriringan menuju panggung pementasan.

Malam itu tidak sedikit mata yang tertuju kepada mereka berdua. Di sela tepuk tangan penonton, samar-samar terdengar teriakan “orang Kawalo top”. Seraya memberikan motivasi untuk pasangan Sumaryono dan Adelina yang begitu serasi hingga berhasil memukau penonton. Keluarga dan teman-teman sekolah mereka pun, enggan melwatkan momentum itu.

Di atas panggung, pesona keduanya kian menguat. Bak dua kutub magnet yang berbeda saling berhadapan, begitulah cemistri yang terbangun antara mereka dan penonton.

Usai memberi hormat kepada dewan juri dan penonton, Sumaryono dan Adelina pun mulai melantunkan sajak-sajak pantun.

Hino Kawalo lau hino kota Bobong, lawi hino Kota Bobong, ingin berbalas pantun di pangung bobong,” ucap mereka sebagai pantun pembuka.

(Dari kawalo pergi ke Bobong, berlabuh di pelabuhan bobong, kami datang di kota Bobong, ingin berbalas pantun di panggung Bobong)

Sumaryono kemudian melanjutkan aksinya. Ia memutari Adelina sambil menghentakkan kaki di lantai panggung sembari melantunkan pantun perkenalan.

Lau kaliang yodi jubi, dele matalingung yodi fangku, fine pahabia kalambi bagasa, ingin kenalan dele mahi,” katanya kepada Adelina seraya ingin mengenalnya.

(Pergi kehutan membawa panah, tidak lupa membawa palu, gadis manis berbaju merah, ingin kenalan janganlah malu)

Tak gentar, Adelina pun membalas pantunya. “Degane ato to kua nka, ambeleng niku hino kou, wahai kakak kelambi biru, nafsu kenalan dele mahi,” sahut Adelina.

(Dari tadi aku memandang dirimu, lirik mata ku tertuju padamu, wahai kakak berbaju biru, ingin kenalan janganlah malu)

Balasan Adelina, kembali mengundang riuh penonton disusul tepuk tangan dewan juri.

Sumaryono yang diterima pantun perkenalannya, kemudian melanjutkan dengan pantun pendidikan.

Talas paha hemung bali tala peta, talas samo tupai nasugang, kalau kito safala balajar, cita cita akan dadi,” lanjutnya.

(Talas jenis umbi jalar, talas suka di makan tupai, bila kita giat belajar, cita cita akan tercapai)

Tak tingal diam, dengan raut wajah santai Adelina pun membalas pantun tersebut.

Lapa mamuhungka untuk bahele, tuka kangang untuk tanasa, capailah cita cita belajar, karna belajar ilmu yang kekal,” lantun Adelina.

(Sudah lelah untuk mengejar, beli makanan untuk jadi bekal, capailah impian dengan belajar karna belajar ilmu yang kekal)

Aksi Sumaryono pun berlanjut. Ia diam sejenak, berjalan sedikit menjauh dari Adelina, kemudian memalingkan badan. Dengan suara lembut ia memberikan pantun nasehat.

Hamai heda ngang rana bali rini, dabe talo bali salama, aku hidup bei bsa, bei dosa waha maksiat,” ungkapnya.

(Anak kembar namanya rana dan rini, lahir kedunia dengan sehat, bagaimana hidupku ini, berbuat dosa banyak maksiat)

Menerima nasehat Sumaryono, Adelina kembali membalasnya.

Subur-subur inung jamu, inung jamu ganti kakaya, sudahi tingkalakumu kadel lese, waha usaha untuk berobat,” balasnya.

(Pagi – pagi minum jamu, jamu diminum penganti obat, sudahi dulu tingkah lakumu, banyak usaha untuk bertobat )

Dengan gaya khasnya Sumaryono kembali menuturkan nasehat dengan pantun agama.

Fia mas odi sobang, mambo nungkia hino dadai, foko mas fangu bia, foko bia odi sagodo mate,” tuturnya.

(Pisang emas bawah berlayar, masak sebiji di atas peti, hutang emas boleh dibayar, hutang budi dibawah mati)

Adelina semakin menunjukkan keteguhannya, ia kemudian membalas pantun agama.

“Nusa Sehu jauh ketengah, bapeng kukusan ku do bali, kanangi muto hino peta ndiang, mantatu bia kito taliang,” balasnya seraya menantang.

(Pulau Sehu jauh ketengah, gunung kukusan kulihat juga, hancur badan di kandung tanah, budi baik di kenang juga)

Merasa tertantang, Sumaryono mencoba menguatkan pendirianya lewat sentuhan pantun pariwisata

Nitado sea hino Kawalo, nanang wisata mantatu Taliabu, dele mangang menilai mantatu kawalo, karna kito mantatu taliabu,” lantunnya menegaskan.

(Tanjung sea ada di Kawalo, tempat wisata orang Taliabu, jangan salah menilai orang Kawalo karena kita orang Taliabu)

Balasan pantun wisata di gencarkan Adelina dengan menyunting semboyan Taliabu yakni hemungsia sia dufu yang artinya bersatu menjadi satu.

Ntado sia hino nking nusa sehu, nanang wisata mantatu Taliabu, mae kito gahangung Taliabu, bali semboyang hemungsia sia dufu,” balas adelina kembali disambut sorak sorai penonton.

(Tanjung sia di seberang Pulau Sehu, tempat wisata Pulau Taliabu, mari katong satukan Taliabu, dengan semboyan hemungsia sia dufu).

Tidak terasa sampailah di penghujung berbalas pantun. Sumaryono dan Adelina kembali memberikan penghormatan lalu mengucap pantun bersama hendak menutup penampilan mereka.

Manu irian, manu cendrawasih, togu hambai lese, bali terima kasih,” tandas mereka mengakhiri

(Burung irian, burung cendrawasih, cukup sekian dan terima kasih)

Riuh sorak sorai penonton disertai tepuktangan pun kembali memcah malam pementasan itu. Sementara Sumaryono dan Adelina kemudian meninggalkan panggung.

Editor: MAS
Komentar
Loading...