Indonesiaberita.com, JAKARTA – Aktivi 98, Aznil Tan mengapreasiasi langkah Presiden Jokowi dalam membangun Papua empat tahun terakhir ini. Menurut pengamatannya, Papua saat ini sudah berbeda jauh dengan Papua tempo dulu karena Pemerintahan Jokowi gencar membangun Papua dengan menggelontorkan anggaran ratusan triliun.

“Saya mencermati Papua dulu sudah beda jauh dengan Papua saat ini. Papua saat ini telah bergerak menjadi sebuah provinsi yang menuju kemajuan. Jokowi sangat fokus dan sangat anak emaskan Papua dalam pembangunan Papua. Kedatangan seorang presiden mewujudkan keadailan sosial bagi rakyat Papua itu luar biasa,” kata Koordinator Nasional Poros Benhil ini dalam diskusi kebangsaan dengan tema, “Papua Membara, Ada Apa dengan Papua,” di Tiku Cafe, Jakarta, Jumat sore (14/12/2018) lusa kemarin.

Apa yang dilakukan Jokowi, lanjut Aznil, merupakan perwujudan dari cita-cit reformasi 1999 yang diperjuangkan aktivis 98. Di mana para aktivis 98 bercita-cita untuk mewujudkan kemajuan bangsa, dan hal itu telah dibuktikan Jokowi di era kepemimpinannya. Jokowi membangun gedung seperti istana presiden dan membangun Trans Papua ribuan kilo meter. Dia juga berani menyatakan bahwa sumber daya alam Papua seperti PT Freeport Indonesia harus dikuasai 51 persen.

Menurut dia, sangat kontradiktif ketika Jokowi tengah gencar bangun Papua dan terjadi aksi kekerasan bersenjata dimana nyawa manusia dicabut dengan mudah. Hal ini, kata dia, harus dikecam sekencang-kencangnya. Pasalnya, dahulu aktivis 98 berjuang dengan cara damai dan bukan dengan senjata dan kekerasan. Setelah selidiki, ternyata motifnya adalah motif politik bukan motif untuk kemerdekaan.

“Saat ini jaman sudah maju, kekerasan bukan lagi cara untuk menyelesaikan masalah, tetapi dengan diplomasi,” ujar Aznil.

Baginya, motif di sana bukan lagi motif kemerdekaan tapi motif politik, karena ini adalah tahun politik. Kalau soal kesejahteraan kan Jokowi sudah melaksanakannya.

“Sekarang dukungan untuk kesejateraan di Papua sudah luar biasa. Dana royalti pajak Freeport saja sudah Rp25 triliun. Lalu dana transfer daerah berdasarkan data sebesar Rp100 trilun. Lalu untuk apa merdeka? Kecuali Papua ditinggalkan, rakyat Papua tidak diperhatikan atau Papua dizolimi dan dianaktirikan,” tegas dia.

Ia iri sebagai putra Sumatera Barat, tetapi karena Papua tertinggal maka Aznil merasa langkah Jokowi itu adil dan bijaksana dalam melaksanakan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, kata Aznil seraya menduga kuat ada motif politik di tahun politik 2019 ini.

Menurutnya, aksi kekerasaan di Papua yang telah dilakukan kelompok sipil bersenjata (KKB) harus diusut tuntas dan diproses hukum. Bukan hanya aparat militer yang ditindak, tetapi juga pada KKB.

“Jangan kita punya mindset kekerasan hanya dilakukan oleh militer, tetapi juga kelompok sipil bersenjata. Ini sudah melanggar HAM. Kalau melanggar HAM, maka harus diselesaikan melalui lembaga-lembaga internasional dan Komnas HAM dan diadili secara hukum.

Dia meminta pihak TNI/ Polri harus menjamin keamanan masyarakat Papua dengan pendekatan humanis dalam penyelesaian konflik, dan harus melindungi masyarakat tidak bersalah terutama anak -anak dan perempuan. Aparat TNI/ Polri juga diminta tidak membalas kekerasan dengan aksi kekerasan, karena dari informasi yang yang berkembang, kelompok bersenjata menggunakan tameng masyarakat untuk berlindung.

“Saya mendukung penuh Presiden Jokowi melanjutkan dan menuntaskan seluruh program pembangunan di Papua, termasuk pembangunan jalan Trans Papua di Nduga,” ucapnya

Ia juga meminta kepada Presiden Jokowi melanjutkan dan menuntaskan pembangunan jalan Trans Papua demi mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ketika jalan sudah tuntas, maka pendidikan, kesehatan dan ekonomi warga bisa berjalan baik.

Hadir sebagai narasumber Ketua Umum Gerakan Cinta NKRI, Tokoh Pemuda Papua, Hendrik Yance Udam, Aktivis 98, Aznil Tan, dan perwakilan Kantor Staf Presiden (KSP) Ifdhal Kasim yang berhalangan hadir. Acara diskusi dipandu oleh Akhrom Saleh yang berlatar belakang jurnalis.

Penulis : BK

Editor : DR