Oleh : Ferdy Hasiman

Kita perlu mengapresiasi kerja keras pemerintah yang sudah sukses menyelesaikan proses divestasi saham Freeport. Kerja keras menteri-menteri Jokowi, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menkeu Sri Mulyani, Menteri BUMN Rini Soemarno perlu kita acungkan jempol. Apresiasi juga atas kerja keras dan jitunya strategi korporasi yang dilakukan oleh PT Indonesia Asahan Alumina (Inalum) di bawah pimpinan Budi Gunadi sadikin atas penyelesaian proses divestasi Freeport

Jokowi adalah presiden pertama yang sukses menjinakan kekuatan Freeport sebagai korporasi yang sulit disentuh oleh rejim berkuasa selama ini. Jokowi adalah presiden yang sukses mengubah kontrak karya (KK) Freeport menjadi IUPK.

KK selama ini menjadi barang mewah bagi Freeport untuk eksplorasi habis tambang tembaga dan emas di pegunungan Earsberg (1972-1988) dan berpindah ke Grasberg dari 1988-sekarang. Dengan KK, hak masyarakat adat Amungme dan Kamoro tak diperhatikan.

KK itu yang buat penerimaan negara berupa pajak dan royalti mengecil dan memicu ketakadilan bagi bangsa ini. KK itu membuat Freeport kebal terhadap aturan-aturan baru dalam dunia pertambangan. Jadi konversi dari KK ke IUPK saja sudah menunjukkan bukti bahwa Jokowi adalah presiden tangguh dan berani melawan korporasi.

Divestasi 51 persen saham juga dilakukan dengan mekanisme korporasi yang jitu. Ketika APBN tak tersedia untuk beli saham Freeport karena defisit angggaran, Jokowi melakukan divestasi dengan cara-cara yang lazim terjadi dalam dunia korporasi. Dengan memerintah Inalum untuk membeli saham Freeport sudah cukup menunjukan bahwa pemerintah sekarang cerdas menghadapi kekuatan korporasi. Pembelian saham 51 persen memang berasal dari global bond inalum. Tentu daya tarik besar investor terhadap global bond inalum menjukan respons positif bahwa Inalum menjadi perusahaan raksasa di masa depan.

Indonesia akan mendapat manfaat besar dengan mendapat 51 persen saham Freeport. Karena ke depan Freeport mulai menambang di tambang underground yang potensinya sebesar 93 persen dari total cadangan Freeport. Tambang underground adalah masa depan Freeport dan mulai beroperasi komersial tahun 2019. Dengan operasi tambang underground produksi rata-rata harian Freeport mencapai 24.000 matrik ton per hari untuk konsentrat tembaga. Produksi yang begitu besar buat pendapatan Freeport mulai tahun depan berada di atas 3 sampai 4 miliar dolar per tahun.

Hitung saja dengan membeli participating interset Rio Tinto, Inalum mampu mengontrol 60 persen total produksi Freeport. Itu artinya lebih dari separuh pendapatan Freeport akan diterima Inalum. Dengan begitu dalam kurun waktu 3- 4 tahun Inalum bisa bayar utang dan sudah memberi kontribusi besar bagi penerimaan negara. Jadi rugi besar kalau kita tidak kontrol sekarang tambang potensial di Grasberg, karena mulai tahun depan tambang underground berproduksi. Ini tentu dari sisi finansial.

Keuntungan lain divestasi adalah kita bisa duduk dalam manajemen dan bisa mempengaruhi kebijakan manajemen mulai dari masalah limbah tailing dan kehutanan. Daripada kita tak tahu apa yang ada di dalam dan berteriak-teriak dari luar, masuk dan mengontrol dapur tambang potensial Grasberg adalah simbol bangsa yang berpikir maju dan mandiri,

Tantangan ke depan bagi Inalum adalah mencari pendanaan untuk masuk ke sektor hilir, bangun smelter tembaga dan emas bersama Freeport. Ini adalah tantangan sekaligus peluang bagi Inalum. Inalum harus bisa belajar banyak dari Freeport bagaimana cara menambang yang profesional, transparan dan akuntabel

Catatan Inalum adalah perusahaan BUMN yang paling tepat kelola dan menjadi mitra Freeport. Inalum mempunyai pengalaman mengolah biji Bauksit menjadi alumina ingot. Neraca keuangan Inalum stabil. Cash flow memadai. Dibandingkan BUMN lain, seperti PT Antam dan PT Timah, Inalum jauh lebih sehat.

Penulis adalah peneliti Pertambangan dari Alpha Research Database, yang juga sebagai penulis buku berjudul “Monster Tambang”