Indonesiaberita.com, TALAUD – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Kepulauan Talaud, sentil penggunaan ‘Potasium’ yang hingga kini kerap digunakan oleh beberapa oknum tertentu atau para penangkap ikan di sebagian wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud.

Dikatakan Ketua HNSI Talaud, Yan Bawiling kepada Indonesia Berita, bahwa dirinya sering mendapat informasi terkait penggunaan potasium oleh oknum tertentu dalam kegiatan penangkapan ikan.

Menurut informasi yang diterimanya, kegiatan penangkapan ikan menggunakan potasium ini memang sudah lama dilakukan, aktifitasnya sudah berlangsung lama dan sampai saat inipun masih dilakukan, tetapi kurang mendapat perhatian dan tindakan tegas dari pihak terkait.

Urai Bawiling, biasanya para pelaku atau pengguna potasium ini kerap melakukan aksinya pada malam hari agar tidak diketahui, dan biasanya mereka memberikan luka dibagian tubuh ikan agar terlihat segar seperti ikan hasil tangkapan menggunakan alat tradisional.

“Sebenarnya ikan itu kan tidak ada luka. Disaat mereka mau jual, ikan itu sengaja dibikin luka untuk menyamarkan kalau ikan itu ikan hasil potas, namun bekas luka itu rata-rata mirip,”ujar Ketua HNSI Talaud, Selasa (15/1/2019).

Tokoh Muda Talaud ini mengungkapkan, tidak semua penangkap ikan selalu menggunakan potasium. Karena para penangkap ikan atau nelayan masih menggunakan alat tradisional seperti jaring untuk menangkap ikan.

“Kalau nangkapnya pakai jaring biasa ya masih wajar, tapi kalau hasil tangkapannya sudah ribuan ya patut dicurigai ikan itu hasilnya dari mana ?,”ungkap Bawiling yang juga merupakan Caleg DPRD Talaud ini.

Adapun ciri-ciri ikan hasil tangkapan dengan menggunakan potasium, lanjut Bawiling, adalah insang ikan terlihat pucat dan mata ikan merah semua.

“Jika warga mengkonsumsi ikan yang mengandung potasium atau potas, dapat berdampak negatif bagi kesehatan walaupun dampaknya belum bisa dirasakan saat itu juga,” tuturnya.

Selain menyentil penggunaan Potasium dalam kegiatan penangkapan ikan, Ketua HNSI Talaud juga menyoroti penggunaan alat bantu pernafasan yakni kompresor oleh para penyelam untuk mencari ikan.

“Penggunaan kompresor berbahaya, dampaknya bisa perlamen atau meninggal. Karena, yang dihirup itu adalah karbon jadi bisa berakibat fatal, beda dengan tabung selam standar yang keamanannya sudah bisa dijamin,” beber Pria yang kerap disapa Kak Yan ini.

Melihat kondisi tersebut, Yan Bawiling berharap, agar Pemerintah membuat zona perlindungan laut agar ekosistem laut dan bibit ikan dapat terus terjaga.

“Seperti di pulau sara (ikon Talaud – red), itu kan sudah masuk lokasi wisata, seharusnya wilayah sara itu sudah steril dan tidak boleh lagi diambil ikannya,” imbuhnya.

Jadi, kata Bawiling, jika ini sudah ada aturan-aturan yang mengatur terkait zona perlindungan laut, maka penggunaan potasium dapat ditekan dan perkembangan ekosistem bawah laut dapat berjalan dengan baik.

“Satu lagi tuh, di desa Mala juga kan ada poin penyelaman kapal karam, jadi seharusnya tidak boleh lagi ada orang yang mencari ikan di lokasi itu. Janganlah menggunakan potas dalam melakukan pencarian ikan karena itu sangat merugikan potensi laut, bibit ikan itu akan mati semua!,” tegas Yan Bawiling.

Oleh karena itu, Ketua HNSI Talaud mendorong, agar adanya sosialisasi dari Pemerintah maupun pihak-pihak terkait, agar diberikan sosialisasi kepada nelayan dan masyarakat tentang bahaya penggunaan potasium dan kompresor.

Sementara itu, Kapolres Kepulauan Talaud AKBP Prasetya Sejati melalui Kasat Polair IPTU Jacob Lambunan ketika dihubungi menuturkan, pihaknya sampai saat ini belum menemukan adanya kasus penggunaan potas oleh oknum tertentu dalam kegiatan penangkapan ikan.

“Belum ada kasus yang ditangani, tetapi kami pernah mendapat informasi terkait penggunaan potas ini, kita sudah turun ke lapangan, namun tidak ada barang bukti,” jelas Lambunan.

Ketika ditanya terkait pemetaan daerah rawan penggunaan potasium, IPTU Jacob Lambunan mengatakan pihaknya belum melalukan pemetaan.

“Ini hanya berdasarkan laporan masyarakat saja, kita kan (Polair) belum ada temuan, jadi terkait pemetaan daerah rawan penggunaan potas belum bisa dilakukan,” ujar Lambunan

Lanjut dikatakan, untuk meminimalisir terjadinya kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan potasium ini, pihaknya akan terus melakukan pengawasan secara intens.

“Tentunya anggota kami akan terus melakukan pengawasan dan penindakan jika nanti ditemukan ada oknum tertentu yang menggunakan potas dalam melakukan penangkapan ikan,” pungkasnya.