Oleh :

Agus Jabo Priyono

Indonesiaberita.com, JAKARTA – Kemerdekaan bukanlah sekedar pergantian kekuasaan dari “orang asing yang menjajah” menjadi orang “Indonesia asli”, hakekat kemerdekaan adalah pergantian konsep, pergantian sistem, dari sistem penindasan serta penghisapan manusia atas manusia, menjadi sistem yang “memanusiakan manusia”.

Wujud kemerdekaan adalah satu kesatuan antara demokrasi politik dengan demokrasi ekonomi.

Politik tidak akan pernah berdaulat (kerakyatan) selama sistem ekonomi masih bersandar kepada kapitalisme, apalagi kepada imperialisme (yang terus berganti wujud).

Kapitalisme menjadikan kekuasaan politik dibawah kontrol kapitalis, para pemilik modal. Kapitalisme (imperialisme maupun dalam bentuk yang lain) hanya akan melanggengkan kesenjangan, kemiskinan, kemunduran, segelintir orang menguasai banyak orang, (1% menguasai 99%).

(Kapitalisme bukanlah bahaya laten, tetapi bahaya kasat mata yang selalu didiamkan).

(Imperialisme yang overheersen (memerintah) bisa saja menghilang, namun imperialisme yang beheersen (menguasai) masih terus bercokol).

Inilah akar keresahan rakyat, yang pada saatnya akan meletus menjadi pemberontakan, (sejarah mencatat) seperti pemberontakan yang dipelopori kaum muda Indonesia, 15 Januari 1974.

Malari adalah simbol penolakan yang radikal, di mana rakyat Indonesia tidak pernah rela kehidupannya dikendalikan oleh modal, apalagi modal asing.

Hormat yang setinggi-tingginya kepada Bang Hariman Siregar dan kawan kawan, kalian telah menyalakan obor, yang akan terus menyala sepanjang masa selama negeri ini masih di bawah ketiak modal, apalagi modal asing.

Persenjatai rakyat dengan usaha produktif untuk hidup, sebelum rakyat mempersenjatai diri melawan ketidakadilan!

Salam Gotong Royong!

Penulis adalah Ketua Umum Partai Rakyat Demojratik (PRD)

Editor : YES