Menjadi Referensi Mendunia

Polisi Tingkatkan Status Kasus Beredarnya Komestik Tanpa Ijin di Palu

Indonesiaberita.com, PALU – Kasus peredaran kosmetik tanpa ijin edar yang banyak beredar di Kota Palu Sulawesi tengah, yang saat ini sedang ditangani oleh Ditreskrimsus Polda sulteng Subdit 1 indag Itreskrimsus Polda Sulteng akan di tingkatkan statusnya dari penyelidikan ke tahap penyidikan.

Hal tersebut dikatakan Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah melalui Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Sulteng Kompol Sugeng Lestari melalui pesan Whatshapp, bahwa Polda Sulteng telah menangani kasus peredaran kosmetik tanpa Ijin edar di Kota Palu. Dari kasus tersebut Ditkrimsus melalui Subdit 1 Indag Itreskrimsus Polda Sulteng, dengan dua orang pemilik Kosmetik tanpa ijin edar. Keduanya diamankan dari dua tempat yang berbeda, pada bulan Januari 2019 lalu, saat ini kasus tersebut dalam proses penyelidikan dan akan ditingkatkan ke tahap penyidikan

“Kasus ini sudah gelar perkara dengan kesimpulan proses penyelidikan yang dilakukan dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan.” kata Kompol Sugeng Lestari, Rabu (6/2/2109).

Dijelaskannya,  terungkapnya kasus beredarnya kosmetik tanpa ijin edar tersebut, berawal dari adanya informasi  masyarakat tentang banyaknya kosmetik yang beredar di kota palu tanpa ijin edar.

“Setelah menerima informasi tersebut Petugas kepolisian Subdit I Indag itreskrimsus polda Sulteng, melakukan pengecekan terhadap Rumah kontrakan lakilaki Berinisial RF alias R waktu itu Pada hari Rabu tanggal 09 Januari 2019, jam 15.30 wita di Jalan Tolambu Kecamatan Palu Barat, Kelurahan Donggala Kodi Kecamatan Palu Barat Kota Palu, dari situ berhasil menemukan kegiatan memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi /Kosmetik yaitu Handbody dan Lulur Sofie tanpa ijin edar dari pihak yang berwenang. Pemilik kosmetika diinterogasi, barang bukti diamankan di Polda Sulteng untuk penyelidikan lebih lanjut.”  jelas Sugeng.

Dari Hasil Pengungkapan tersebut kata Sugeng lestari  berhasil diamankan dari Laki laki ber Inisial RF alias R adalah :

–  1 (satu) buah Micxer Merk Kirin berwarna putih, 4 (empat) buah Loyang besar berwarna hitam, 2 (dua) buah Loyang besar berwarna abu-abu.1   (satu) buah Loyang kecil berwarna biru.
– 1 (satu) buah Sendok besar plastik berwarna pink, 1(satu) buah Sendok besar plastik berwarna hijau.
– 1  buah Sendok besar plastik berwarna biru. – 1 buah Spatula plastik berwarna hijau, 1 buah Spatula plastik berwarna oranye, 5 buah Sendok makan dari besi standless, 1 buah Sendok kayu (penggarut) besar, 3  buah Ember warna putih ukuran 5 Kg., 3 buah Ember warna putih ukuran 2,5 Kg.
kurang lebih 645 Cup ukuran 200 ML, HendBody Sofie.
– 66 Cup ukuran 200 ML,Lulur Sofie berwarna biru. 52Cup ukuran 200 ML,Lulur Sofie berwarna Hijau.  51Cup ukuran 200 ML,Lulur Sofie berwarna merah muda atau Pink.
– 50 Cup ukuran 200 ML berwarna bening dalam keadaan  kosong, 9 Cup kecil Whitening Nigh Cream. 5 buah Serum Brightening Cleanser., 52 Dos Air Mawar, 170 picis Krim Zam-Zam,130  lembar Stiker bulat bertuliskan Handbody Sofie.”ungkapnya

Lanjut Sugeng Lestari, kemudian sekitar tanggal 11 Januari 2019 yang lalu kembali ditemukan obat dan kosmetik yang diduga tidak memiliki Ijin  edar yang siap untuk diedarkan.dan diperdagangkan oleh perempuan berinisial H,  yang beralamat di Jalan Beo kelurahan Tanamodindi kecamatan Mantikolore Palu Sulawesi Tengah. Barang bukti berupa sediaan farmasi  obat  dan kosmetik  tersebut  diamankan  di  Mako Ditreskrimsus  Polda Sulteng  oleh pihak kepolisian untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Polisi sudah Memeriksa 3-4 orang saksi yang melihat dan mengetahui keberadaan barang yang dikuasai dan diperjualbelikan oleh terlapor, mengamankan dan menyita barang bukti, melakukan koordinasi dengan Kantor Balai Penelitian Obat dan Makanan (BPOM) Kota Palu yang menyimpulkan bahwa benar barang bukti berupa obat dan kosmetik tidak memiliki ijin edar, kemudian terlapor sudah di lakukan pemeriksaan dengan status masih saksi.dan kasus ini sudah dilakukan Gelar Perkara dengan kesimpulan proses penyelidikan yang dilakukan dapat ditingkatkan ke Tahap Penyidikan.” lanjutnya.

Dirinya menyampaikan bahwa keduanya telah melanggar pasal 197 UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Keduanya telah melanggar Pasal 197 Jo pasal 106 ayat (1) UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang  Kesehatan, dan Pasal 62 ayat (1) Jo pasal 8 ayat (1) huruf  (a) dan ( j ) UU RI Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara denda 1,5 – 2 milyar rupiah.” pungkas Sugeng.

Penulis : Asyram

Editor : YES

Komentar
Loading...