Indonesiaberita.com, BITUNG – Kepala Badan (Kaban) Karantina Pertanian Pusat, Ali Jamil mengatakan, sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo (Jokowi) bahwa untuk menyiapkan generasi muda menghadapi era revolusi industri 4.0. (nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik – red), untuk menghasilkan “pabrik cerdas”.

Berbagai upaya dari seluruh unit kerja di jajaran Pemerintahan termasuk Kementerian Pertanian terus melakukan persiapan bagi generasi yang akan memimpin Indonesia di tahun 2030 nanti.

Salah satunya adalah, Ayo Galakkan Ekspor Generasi Milenial Bangsa (Agro Gemilang) yang menjadi program Badan Karantina Pertanian (Barantan) untuk mempersiapkan dan mendorong para petani muda dalam memasuki pasar ekspor alias go international.

“Tentunya dengan dukungan digitalisasi operasional karantina yang merupakan pilihan strategis dalam menjamin akurasi, percepatan layanan dan jaminan kesehatan serta keamanan produk pertanian kita,” ujar Ali Jamil saat menghadiri sekaligus me-launching Ekspor Copex dan PKE (Palm Kernel Expeller) asal Sulawesi Utara, di Perusahaan Multi Nabati Sulawesi (MNS) Bitung, Kamis (14/2/2019).

Dikatakan Ali Jamil, sebagai contohnya adalah ekspor komoditas Provinsi Sulawesi Utara seperti pala, bungkil kelapa, bungkil sawit, tepung kelapa dan komoditas lain yang akan di ekspor ke berbagai negara Uni Eropa, seperti Amerika, Australia, Afrika dan Asia termasuk China, Korea dan negara tetangga (Asia tenggara).

“Negara-negara tersebut mempersyaratkan, tidak boleh ada serangga hidup (life insec) pada komoditas yang dikirim bahkan lebih dari itu, negara-negara uni eropa mempersyaratkan atau menetapkan batas ambang maksimal kandungan aflatoxin (segolongan senyawa toksik; mikotoksin, toksin yang berasal dari fungi yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia dan hewan – red) pada komoditi pala, dan kandungan sulphite pada komoditi tepung kelapa (disiccated coconut),” terang Jamil.

Sementara itu, lanjut Jamil, layanan perkarantinaan memasuki era revolusi industri 4.0 otomatis diimplementasikan melalui Indonesia quarantine full automation system (iqfast) yang merupakan rumah besar sistem informasi karantina yang telah dibangun dan digunakan di seluruh unit pelaksana teknis karantina pertanian di seluruh Indonesia.

“Itu merupakan sistem yang memungkinkan monitoring arus lalu lintas komoditas pertanian diseluruh pintu pemasukan dan pengeluaran secara real time ini menjadi titik tolak pengembangan big data perkarantinaan ke depan,” tukasnya.

Sedangkan dalam memfasilitasi perdagangan ekspor impor komoditas pertanian terlebih di wilayah Sulawesi Utara, Karantina Pertanian telah memungkinkan dilakukannya suatu penyampaian data dan informasi secara tunggal (single submission of data and information), pemrosesan data dan informasi secara tunggal dan sinkron (single and synchronous processing of data and information), dan pembuatan keputusan secara tunggal melalui portal Indonesia National Single Window (INSW).

“Sementara pertukaran data antar Negara Asean dalam kerangka Asean Single Window, dengan Negara-negara Mitra Dagang Indonesia, Karantina Pertanian telah memproses data secara E-cert (Electronic Certification) atau sebuah aplikasi sistem pertukaran data berbasis elektronik di Tiga Negara Mitra Dagang, yakni Australia, New Zealand dan Belanda,” pungkas Jamil.

Editor : YES