IBC, SERPONG UTARA – Memperingati Isra Mi’raj warga perumahan Serpong Park, Jelupang, Tangerang Selatan, Banten mengundang Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar, Rabu, (3/4/2019), untuk memberikan ceramahnya seputar peringatan Isra Mi’raj 27 Rajab 1440 Hijriah, perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam. Dengan tema ‘Makna Shalat Bagi Seorang Muslim’.

KH. Nasaruddin Umar mengatakan dalam ceramahnya, peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik.

“Dalam tempo singkat kurang dari semalam (minal lail) tetapi Nabi berhasil menembus lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil Muntaha). Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil menyalin pengalaman spiritual yang amat padat di sana,” ujarnya kepada 500-an jamah yang hadir malam kemarin.

Sambung imam besar masjid Istiqlal ini, Kalau dikumpulkan seluruh hadits Isra Mi’raj (baik sahih maupun tidak), maka tidak cukup sehari-semalam untuk menceritakannya. Mulai dari perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai perjalanan vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil Muntaha.

Ia juga menambahkan, hikmah dari Isra Mi’raj secara Islami dan tasawuf. Pertama, perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan kedua, perjalanan vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratil Muntaha. Perjalanan Isra mungkin masih bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi’raj sama sekali di luar kemampuan otak pikiran manusia.

Dari kiri ke kanan, Ketua FKSN, KH. Syamsul Ma’rif, Ulama sesepuh Tangsel, H.M Soleh Akip Toha dan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar. Rabu (3/4/2019) Foto : Istimewa

“Perjalanan Mi’raj ini, juga masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Suni memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratil Muntaha ialah Nabi Muhammad SAW secara utuh, lahir dan batin,” kata KH Nasaruddin yang juga pernah menjadi Wakil Menteri Agama periode 2011-2014 ini.

Sambungnya, Sementara pendapat lain memahami hanya rohaninya saja. Bagi kita tidak terlalu penting untuk dipersoalkan apakah fisik dan rohani atau hanya fisik saja, karena perjalanan suci tersebut bukanlah kehendak dan keinginan Rasulullah, tetapi kehendak dan keinginan Allah SWT.

“Yang pasti, perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai pemandangan spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa dijadikan pelajaran dan hikmah bagi umat Islam. Sebab, perjalanan malam hari itu, telah membangkitkan semangat baru Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam,” tutup pria asal Sulawesi Selatan ini.

Ditempat yang sama saat ditemui pewarta Indonesia Berita, Ulama sepuh Tangsel, H.M Soleh Akip Toha yang mendampingi KH. Nasaruddin Umar (RED) menyampaikan, mereka panitia mengundang KH. Nasaruddin Umar adalah sosok ulama besar yang tinggi ilmu agamanya, “sehingga kami para sepuh dan ulama-ulama muda di Tangerang Selatan khususnya Jelupang menambah ilmu di bidang keagamaan,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, dalam kondisi politik yang sedang meningkat suhunya, menurut kakek dari enam cucu ini menyarankan kepada Ketua DKM H. Slamet Ahmad dan Ketua Panitia H. Muswalin untuk mengundang ulama dengan kriteria yang sejuk, sehingga menjadi pilihan Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

Turut hadir dan mendampingi Imam Besar Masjid Istiqlal, Ketua FKSN Tangsel, KH. Syamsul Ma’rif, Ulama dan sesepuh Tangsel H. M. Soleh Akip Toha, Wakapolres Tangsel, Kompol Amran, Camat Serpong Utara, Bani Khosyatullah, Lurah Jelupang, Taram Amarudin dan Kapolsek Serpong Utara.

Sementara itu, menurut informasi dari salah satu panitia, Walikota Tangerang Selatan, Hj. Airin Rachmi Diany berhalangan hadir dikarenakan sedang kurang sehat badan.

Editor : DR