Menjadi Referensi Mendunia

Legenda Benteng Moraya di Tanah Toar Lumimuut Semakin Mendunia

IBC, MINAHASA – Benteng Moraya berada di Tondano Barat, Minahasa, Sulawesi Utara dan menjadi bukti sejarah dari perjuangan terakhir rakyat Minahasa.

Sebagai salah satu objek dan daya tarik wisata (tourism attraction and destination) Kabupaten Minahasa yang bernilai sejarah.

Bangunan ini berbentuk menara pengintai yang terdiri dari 4 (empat) lantai menjulang tinggi seolah mengingatkan era kejayaan Tou Minahasa jaman dahulu.

Destinasi wisata ini belum lama dibangun berdasarkan riset dan tulisan sejarah yang menceritakan bahwa tempat berdirinya Benteng Moraya ini pernah terjadi perlawanan sengit berhadapan orang minahasa dengan kaum kolonial Belanda.

Pertempuran yang terjadi di tahun 1861 ini merupakan salah satu perang terhebat yang tidak sedikit memakan korban jiwa, raga dan darah namun para pentua Minahasa dengan gigih berhasil mempertahankan wilayah Benteng dan pemukiman BinaWanua (kampung pertama di Tondano).Sekalipun dikepung oleh tentara kolonial Belanda namun para pentuah Minahasa tetap mempertahankan Benteng Moraya dan pada akhirnya menjadi wilayah pertumpahan darah dimana air sungai dan danau berubah menjadi merah disebabkan karena banyak pentuah Minahasa yang terbunuh.

Moraya berarti Genangan Darah, nama yang selalu mengingatkan kepahlawanan dan perlawanan para leluhur Minahasa dengan semangat juang yang tinggi dan karakter para leluhur yang selalu bekerja sama yang saat ini kita kenal dengan budaya “Mapalus”.

“Destinasi Wisata satu ini tidak kalah melegenda di Tanah Toar Lumimuut yang konon merupakan pertahanan terakhir rakyat minahasa menghadapi kompeni belanda.” ungkap Syultje Panambunan selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Minahasa saat diwawancarai di kantornya, Selasa, (9/4/2019) kemarin.

Sementara itu Kepala Seksi Permuseuman dan Arkeologi Kabupaten Minahasa Jhonly Muaja mengatakan pengembangan Benteng Moraya yang dimulai tahun 2016 seiring meningkatnya wisatawan ke daerah ini.

“Pengembangan kawasan Wisata Sejarah dan Wisata Buatan Benteng Moraya ini mulai dikembangkan tahun 2016 lalu seiring meningkatnya wisatawan ke daerah ini sehingga Pemerintah Kabupaten Minahasa dibawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata secara rutin menggelar kegiatan seperti halnya “Festival Benteng Moraya yang dihelat tahun 2018.” ungkap Jhonly Muaja.

Muaja menghimbau masyarakat di sekitarnya dan pengunjung untuk melestarikan dan menjaga aset wisata ini.

“Masyarakat sekitar bahkan pengunjung agar melestarikan dan menjaga aset dan objek wisata ini jangan sampai merusak bahkan mencemari kawasan ini sehingga para wisatawan betah berlama-lama menikmat liburan bersama.” imbaunya.

Hal yang sama juga diharapkan oleh salah seorang tokoh masyarakat Tondano Barat Luther Lapian agar Dinas terkait menambah anggaran pembangunannya.

“Melalui Dinas terkait agar menambah anggaran pembangunan sarana pelengkap yang ada di kawasan wisata Benteng Moraya ini sehingga menjadi daya tarik kunjungan wisatawan ke daerah ini, dengan demikian meningkatkan Pendapatan Asli Daerah bahkan perekonomian masyatakat disekitarnya”.harap Luther.

Penulis : Eddy Th. Terok

Editor : YES

Komentar
Loading...