Menjadi Referensi Mendunia

Relawan Ke Amin Rais dan Prabowo: Jangan Ajak Masyarakat Ikutan ‘Edan’

IBC, JAKARTA – Klaim kemenangan oleh Paslon Nomor Urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno yang dilakukan dengan cara sujud syukur dan syukuran serta digelarnya konferensi pers yang mengatakan kepada publik seakan-akan menang berdasarkan Form C1 dari 6000 TPS bukanlah mewakili sampling metodelogi survei yang benar, melainkan sampling yang didapat dari saksi-saksi TPS tempat paslon 02 menang.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Komite Rakyat Nasional (Kornas)-Jokowi, A. Havid Permana kepada Pewarta Indonesia Berita melalui selularnya, di Jakarta, Sabtu (20/4/2019).

Menurut Havid metodelogi yang dilakukan pihak 02 bukanlah cara-cara survei yang benar melainkan hanya sebatas untuk perimbangan opini yang beredar akibat hitungan cepat dari 12 lembaga survei yang menyatakan Paslon 01 unggul.

Akibat hal tersebut Havid juga menyampaikan, bila Amin Rais dan Prabowo masih memaksakan kebohongan kepada masyarakat Indonesia sebaiknya sendiri saja, sebab kata Havid Amin Rais dan Prabowo seperti orang gila jabatan.

“Kalau masih maksa klaim menang, sebaiknya pak Amin Rais dan Pak Prabowo mendingan berdua aja, jangan ajak-ajak masyarakat ikutan edan, apalagi itu perbuatan bohong atau hoax. Dalam keyakinan kami perbuatan bohong kan berdosa,” ujar Havid.

Ia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk bersabar menunggu perhitungan akhir Komisi Pemilihan Umum pada tanggal 22 Mei 2019 nanti. Oleh karena itu tutur Havid, kita hormati lembaga yang dibentuk oleh undang-undang tersebut.

“Mari kita berikan pendidikan politik yang beretika dan bermoral kepada masyarakat, kita percaya bahwa KPU melakukan yang terbaik demi bangsa ini, tuduhan dan fitnah kepada KPU menurut kami tidak memiliki dasarnya,” ucap Havid yang juga aktivis pergerakan ini.

Lanjutnya, ia juga mengucapkan selamat kepada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Ir. H. Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin atas kemenanganya mengungguli paslon 02, meskipun masih berdasarkan hitungan cepat. “Ya kan hitungan cepat juga gak jauh berbeda dari hasil KPU, sebab survei ada teori ilmiahnya sehingga bisa kita jadikan dasar, tapi untuk hasil resminya kita tunggu pleno KPU,” tambah Havid.

Menutup keterangannya, ia mengapresiasi sikap Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengakui hasil hitungan cepat pemilihan legislatifnya, walaupun PKS dan PAN tidak mempercayai hasil penghitungan cepat suara pilpresnya. “Biarkan masyarakat yang menilai, setidaknya PAN dan PKS sudah mengakui itu,” tutup pria dua orang anak ini.

Penulis : FA

Editor : RA

Komentar
Loading...