Menjadi Referensi Mendunia

Kementan ‘Garansi’ Pasokan Pangan Pokok Aman Selama Ramadan dan Idul Fitri

IBC, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan pangan pokok selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) terutama bulan Ramadan dan Idul Fitri 1440 H mencukupi. Kepastian tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementan yang mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Forum Merdeka Barat 9 (FMB9).

“Kita sudah cek, kondisi ketersediaan pangan pokok kita aman, baik untuk bulan puasa dan hari raya Idul Fitri,” terang Agung, dalam acara bertajuk ‘Pengendalian Harga Pangan’ tersebut di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada Senin (13/05).

Dari data 12 komoditas pokok yang tampilkan seperti beras, jagung, kedelai minyak goreng, gula pasir, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi dan kerbau, daging ayam ras, dan telur ayam ras semua menunjukkan pasokan yang mencukupi bahkan beberapa lebih.

“Intinya adalah kita memahami betul bahwa menjelang ramadan dan Idul Fitri ada permintaan selaku meningkat 10-20 persen. Sehingga kita antisipasi, salah satunya dengan menyiapkan dan menanam 3-4 bulan untuk bisa panen jelang puasa dan lebaran,” jelas Agung.

Agung menerangkan bahwa pemerintah punya pengalaman yang baik dalam menjaga inflasi jelang Idul Fitri, terutama untuk tiga tahun terakhir. Dimana permintaan yang meningkat tidak mengakibatkan lonjakan harga seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pada Juni 2018, yang bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri, inflasi mampu dijaga cukup rendah yakni 0,59 persen. Beberapa komoditas seperti telur ayam ras, beras, bawang putih dan cabai merah bahkan disebutkan memberikan andil deflasi.

Mengenai isu beberapa harga komoditas yang sempat mengalami gejolak, Kementan langsung sigap berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menstabilkan harga dengan melaksanakan operasi pasar. Harga bawang putih berangsur kembali ke harga normal setelah sebelumnya mencapai Rp.70 ribu/kg, begitu juga dengan cabai merah.

Agung menjelaskan, bahwa saat ini 90 persen kebutuhan bawang putih memang masih impor, sehingga harga sangat terkait dengan pasokan dari luar. Akan tetapi Kementan sudah melakukan sejumlah langkah untuk menghilangkan ketergantungan ini dengan mewajibkan para importir untuk menanam 5% dari kuota impor yang diberikan.

“Hasilnya, saat ini sudah ada 20 ribu lahan baru pertanaman bawang putih dari sebelumnya yang hanya 2 ribu hektare. Seluruh panennya langsung dijadikan benih sehingga di 2021 kita bisa swasembada dengan 60 ribu hektare lahan atau setara 600 ribu hektare bawang putih,” terang Agung.

Terkait cabai merah, saat ini sejumlah sentra sudah memasuki masa panen. Kementan bahkan langsung terjun ke lapangan untuk menyerap hasil panen petani karena harganya jatuh hingga Rp3 ribu/kg. “Kita langsung beli dengan harga yang layak Rp.8-10 ribu agar ada keadilan harga bagi petani, tanpa mengorbankan konsumen,” ungkap Agung.

Agung tidak mengkhawatirkan bahan pangan pokok lain, karena berdasarkan neraca kumulatif yang dimilikinya seperti beras Indonesia masih punya stok 15 juta ton. Sementara minyak goreng 13 juta ton, gula pasir 389 ribu ton, daging sapi 32 ribu ton, telur 471 ribu ton, dan bawang merah 83 ribu ton.

Editor : DR

Komentar
Loading...