Menjadi Referensi Mendunia

Mampu Prediksi Kebakaran Hutan, Rektor IPB Beri 4 Solusi Pertanian Digital di FAO Roma

IBc, ROMA – Rektor IPB University, Arif Satria, diundang Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia atau Food Agriculture Organization (FAO) Roma secara khusus untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam pertemuan tentang “Digital Agriculture: Challenges to be Addressed” pada 12-13 Juni 2019 di Kantor Pusat FAO Roma Italia.

Rektor IPB University, yang merupakan satu-satunya pembicara dari unsur perguruan tinggi, memaparkan konsep IPB University tentang Agromaritim 4.0 dan memperkenalkan 25 inovasi digital karya dosen dan mahasiswa IPB baik untuk adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim, serta untuk ketahanan pangan.

Beberapa inovasi yang dikenalkan adalah tentang Fire Risk System (FRS) yang merupakan sistem digital yang mampu memprediksi kebakaran hutan untuk enam bulan ke depan di sepuluh provinsi. Sistem ini sudah disampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Begitu juga National Forest Monitoring untuk peringatan dini deforestasi. Selain itu dikenalkan Underwater Televisual System (UTS) untuk memonitor ekosistem bawah laut secara digital, dan TrekFish yang merupakan alat perekam jejak jalur penangkapan ikan yang penting untuk mendukung Seafood Import Monitoring (SIM) dan menjamin keterlusuran.

Sementara itu untuk menunjang ketahanan pangan, inovasi IPB yang dipaparkan antara lain Smart Seed, yang merupakan aplikasi yang menggunakan satelit, pemodelan iklim, big data, dan internet of things berbasis android untuk 100 ribu petani sayuran di Indonesia.

Ada juga sistem pintar pengendalian hama dan penyakit tanaman, sistem pintar pengembangan agrologistik berbasis blockchain, serta PreciPalm yang merupakan sistem rekomendasi pemupukan presisi berbasis satelit agar pemupukan lebih efisien dan efektif.

Acara yang dibuka langsung oleh Director General FAO Jose Graziano da Silva, dihadiri sekitar 250 peserta dari negara anggota baik para menteri, duta besar, para pejabat kementerian, serta pimpinan FAO dan lembaga multilateral. Hadir dalam forum ini Esti Andayani Duta Besar RI di Roma didampingi Atase Pertanian Ida Ayu Ratih.

Dalam kesempatan tersebut Arif menyampaikan bahwa pertanian digital sudah menjadi keniscayaan. Namun demikian juga perlu disadari bahwa kondisi dunia ketiga dicirikan dengan mayoritas petani skala kecil. Oleh karena itu, pengembangan pertanian digital menghadapi tantangan tersendiri.

Rektor IPB juga mengusulkan empat strategi pertanian digital untuk negara berkembang. Pertama, pengembangan masyarakat di pedesaan agar lebih siap dalam memanfaatkan inovasi digital. IPB pernah mengembangkan peningkatan literasi digital petani di delapan provinsi dan tujuh belas kabupaten bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Juga program Precision Village yang membantu masyarakat desa melakukan perencanaan desa presisi berbasis data dan teknologi digital dengan menerapkan pemetaan partisipatif berbasis drone.

Kedua, peta jalan riset Agro-Maritim 4.0, agar riset-riset lebih terarah dengan hasil yang terukur dan bermanfaat secara konkrit di masyarakat.

Ketiga, kerangka implementasi konsep Agro-Maritim 4.0 agar pelaku usaha dari berbagai lapisan sosial mampu menerapkan model pertanian digital ini. Ini penting karena pelaku agro-maritim di dunia ketiga beragam, ada yang sudah siap dengan teknologi dan ada yang belum.

“Di sinilah kolaborasi antar pemangku kepentingan diperlukan, dan perlu dukungan lembaga internasional seperti FAO dan The International Fund for Agricultural Development (IFAD),” ujarnya dihadapan peserta.

Keempat, kerangka regulasi harus segera disiapkan, mumpung implementasi pertanian digital ini belum cukup marak. Selama ini regulasi selalu terlambat dibandingkan dengan perkembangan teknologi. Dalam regulasi ini perlu ditekankan afirmasi untuk petani skala kecil sehingga mereka bisa menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian modern ini.

Editor : MAS

Komentar
Loading...