IBc, JAKARTA – Bak kata pepatah, berakit-rakit dahalu bersenang-senang kemudian, beginilah kisah singkat menggambarkan perjuangan musisi muda asal Indonesia dari Kabupaten Blora Jawa Tengah. Pasalnya kata Vicky, mulanya ia ditolak oleh industry musik Malaysia hingga tiga kali. Namun hal itu tak membuatnya berputus asa.

Meski demikian, pada akhirnya perjuangan Vicky tak sia-sia, kini pemuda milenial ini dapat kesempatan untuk berkarya di negeri Jiran dengan kontrak lima tahun lamanya.

Begini Kisah Singkat Vicky Aditya Musisi Asal Kabupaten Blora.

Pria bernama lengkap Vicky Aditya yang memiliki hobi musik dan menciptakan lagu ini menyampaikan, bahwa sejak tahun 2016, ia telah masuk dapur rekaman. “Awal mula saya masuk recording, dimulai tahun 2016, memang pada dasarnya saya suka bermusik dan suka membuat lagu, saya suka belajar yang namanya musik,” ujar Vicky kepada Indonesia Berita, Minggu (23/6/2019) malam.

Vicky juga membeberkan riwayat singkat hidupnya, bahwa setelah lulus dari SMPN 1 Blora, ia pindah ke Jakarta untuk menekuni dunia musik.

“Saya menekuni dunia musik sejak tahun 2017, sebelumnya saya juga pernah bekerjasama dengan indie label di Jakarta cancer record dan merilis dua lagu secara indie,” ucap pria yang suka belajar ini.

Lebih lanjut Vicky menyampaikan, bahwa lagu demi lagu ia ciptakan, sebab kata Vicky, sayang jika hanya tertulis dikertas, lebih baik membuatnya menjadi lagu. “Mulai dari sini saya mengerjakan lagu dan aransement sendiri, sampai benar-benar jadi lagu yang bagus,” imbuh pria yang beralamat di Desa Sambeng, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

Tahun 2017 Vicky mulai mengikuti acara mini consert di Bandung, “di situlah saya bertemu dengan bapak Andrio Sinaga pemilik Indie Label Cancer Record dan menawari kerjasama,” ungkap Vicky.

Pria yang belajar dancer ini juga mengaku, bahwa sudah ada beberapa karyanya tercipta, setidaknya ada lima karya, empat di Indonesia dan satu di Malaysia.

Selain itu, Vicky juga memiliki mimpi besar di industri musik Indonesia dan Malaysia. Perjuangannya pun terus dia lakukan agar bisa diterima sebagai musisi.

“Proses saya bisa masuk ke industri musik Malaysia tidak mudah, saya harus benar-benar memiliki kemampuan yang lebih di Malaysia. Saya sempat mengirim beberapa demo lagu ke label rekaman Malaysia dan sempat di tolak tiga label juga di Malaysia,” kenang Vicky.

Pada akhirnya sambung Vicky, “Saya memiliki ide membuat satu lagu, saya padukan musik Indo dan Melayu, setelah lagu jadi langsung saya kirim ke label rekaman lagi, dan alhamdulilah dengan karya saya ini label NAR RECORDS tertarik dan memberikan ruang berkarya di Malaysia buat saya, serta NAR RECORD juga berani mengontrak selama lima tahun,” tuturnya.

Vicky menambahkan, bahwa ia berharap single perdananya dapat diterima masyarakat luas di Indonesia dan Malaysia. Hal tersebut juga menjadi langkah pertamanya untuk bisa memperkenalkan budaya Blora dan Indonesia ke Malaysia.

“Saya akan coba berusaha terus untuk membuat karya yang terbaik agar bisa dicintai kalangan pecinta musik di Indonesia dan Malaysia dan saya ingin membanggakan tempat kelahiran saya Blora,” tutup Vicky.

Editor : MAS