Bali, Menhan Sebut Ancaman Ini di Hadapan Atase Pertahanan Negara Sahabat

IBc, BALI – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengadakan pertemuan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu dengan para Atase Pertahanan, Atase Darat, Atase Laut, dan Atase Udara dari Negara-negara sahabat, di Nusa Dua, Bali (25/6/2019) kemarin.

Forum pertemuan yang ini diselenggarakan dalam rangka mempererat dan meningkatkan hubungan kerja sama Indonesia dengan negara – negara sahabat khususnya kerjasama dalam bidang pertahanan yang sudah terjalin erat selama ini.

“Saya berharap forum ini dapat menjadi sarana untuk mempererat kerjasama yang sudah terjalin selama ini. Kita undang di Bali, karena Bali adalah lokasi yang bisa membuat kita relax dari kesibukan kerja yang tiada henti di Jakarta. Saya juga ingin membawa para Athan pada situasi rekreasi sejenak, sekaligus mengenalkan budaya dan keindahan Bali,” ungkap Menhan RI dalam sambutannya.

Menhan yang didampingi Irjen Kemhan Laksdya TNI Didit Herdiawan dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan kepada para Atan dari negara sahabat beberapa hal terkait perkembangan situasi keamanan luar dan dalam negeri yang mempengaruhi kebijakan pertahanan di kawasan.

“Saya akan sampaikan perkembangan kebijakan strategis yang berpengaruh terhadap pertahanan, dan kebijakan kawasan. Perkembangan lingkungan strategis yang sangat dinamis turut mempengaruhi segala kebijakan pada lingkup global, regional, maupun nasional,” jelasnya.

Berbagai perkembangan situasi dan kondisi baik politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan serta adanya berbagai kepentingan yang didasari oleh geopolitik dan geostrategi negara terhadap negara lain antar kawasan dapat menjadi ancaman, gangguan ataupun peluang bagi suatu pemerintahan negara dalam rangka menjaga kepentingan nasionalnya.

Terdapat berbagai fenomena yang terjadi di dunia internasional yang dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan suatu negara. Begitupun dengan Indonesia. Dinamika perkembangan situasi luar negeri yang mempengaruhi kebijakan pertahanan Indonesia, antara lain: Pengembangan Senjata Strategis, Isu Radikalisme, Ekstrimisme, dan Terorisme, Perubahan Iklim, Isu Migran, Penyebaran dan Penyalahgunaan Narkoba serta Ketahanan Pangan, Air dan Energi.

Menurut Menhan RI, isu terorisme juga masih menjadi perhatian utama bagi negara-negara Asia Tenggara khususnya pasca kekalahan Daesh atau ISIL di Irak dan Suriah karena kembalinya ribuan militan asing/Foreign Terrorist Fighter (FTF) ke negara asalnya termasuk di Asia Tenggara.

Kembalinya para militan asing tersebut menjadi ancaman utama di berbagai kawasan. Peristiwa Marawi pada tahun 2017, menjadi tonggak awal bagi pembentukan kerja sama yang lebih erat dalam menghadapi ancaman terorisme di Asia Tenggara.

Dalam kaitan tersebut, dikatakan Menhan bahwa kerja sama regional terus didorong untuk lebih aktif dalam mengantisipasi ancaman tersebut, sehingga melahirkan beberapa kerja sama minilateral, seperti sub-regional meeting dan forum beberapa negara-negara ASEAN.

Sampai dengan saat ini, forum-forum tersebut telah membantu mendorong terciptanya kerja sama Trilateral Indomalphi antara Indonesia, Malaysia dan Filipina serta kerja sama intelijen dan pertukaran informasi strategis Our Eyes Initiative.

Editor : DR