IBC, TOLITOLI – Satuan Reserse narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Tolitoli lakukan pengembangan terkait kasus ditemukannya narkoba jenis sabu dari tangan salah seorang warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 11 B Tolitoli, TK (39) seberat 20.20 Gram.

“Pelaku masih kami periksa dan kami akan kembangkan kasus tersebut.” kata Kapolres Tolitoli AKBP.Hendro Purwoko kepada sejumlah wartawan saat konperensi pers dengan di dampingi Wakapolres Tolitoli, Kompol. M. Nurasjik, Kasat Narkoba IPTU. S Kinsale, Kasat Reskrim AKP Esti yang berlangsung di Aula Parama Satwika Polres Tolitoli, Jum’at (12/7/2019) kemarin.

Hendro menjelaskan setelah menyita narkoba jenis sabu sebanyak 20.20 Gram, kemudian barang bukti bersama tersangka TK dibawa Tim Opsnal Sat Resnarkoba ke Mapolres TolitolI.

Ia memambahkan tersangka kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Mokopido Tolitoli untuk dilakukan tes urine dan hasilnya positif.selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap TK (39) yang merupakan salah seorang warga binaan Lapas Klas 11 B Tolitoli.

“Saat diinterogasi tersangka (TK ) dan menerangkan bahwa narkotika jenis sabu tersebut diperolehnya pada tanggal 22 Juni 2019 diantar oleh seorang laki-laki tidak dikenal yang berasal dari Palu diantar kedalam Lapas dengan cara diisi kedalam nasi bungkus untuk mengelabui pemeriksaan petugas jaga lapas, kemudian sabu sabu tersebut di serahkan oleh lakilaki yang tidak di kenal di ruang besuk Lapas,” kata Hendro.

Menurut Hendro bahwa hasil pengakuan tersangka TK awalnya sabu tersebut seberat 50 gram, dan mulai sekitar tanggal 23 Juni 2019, tersangka(TK) mengedarkan sabu tersebut ke pembeli di luar Lapas.

“Hasil iinterogasi (TK), ternyata barang haram tersebut awalnya sebanyak 50 gram.tapi sudah berhasil diedarkan keluar, barang yang diedarkan sudah 20 gram. Pengakuannya dia dapat kiriman dari Palu,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, Saat ini masih dilakukan pengejaran kepada Oyong alias OY, yang terakhir kali besuk tersangka TK. Pihaknya mencoba dalami dari mana asal barang haram tersebut. Mudah-mudahan kata Hendro, dengan komunitas narkoba di daerah ini bisa memback up mengungkap jaringan peredaran barang haram tersebut.

Selanjutnya ia menjelaskan, bahwa awal ditemukannya narkoba jenis sabu itu, pada tanggal 11 Juli 2019 sekitar pukul 13 00 Wita, Kalapas Tolitoli, menelpon Kasat narkoba Polres Tolitoli Iptu S. Kinsale, dengan menginformasikan bahwa telah ditemukan sebuah bingkisan yang dililit lakban warna hitam yang ditemukan dalam saku celana salah seorang warga binaan Lapas Klas 11 B Tolitoli.

Adanya informasi tersebut, Kasat Resnarkoba Polres Tolitoli bersama anggota menuju lapas, bungkusan yang dililit Lakban hitam tersebut di temukan di dalam saku celana warga binaan yang berstatus narapidana dalam kasus Narkotika jenis sabu, bungkusan tersebut ditemukan oleh petugas jaga lapas yang melakukan penggeledahan badan terhadap (TK) di Pos Penghubung (PHB) setelah (TK ) dibesuk oleh seseorang bernama Oyong alias OY.

Saat itu Kasat Resnarkoba bersama anggotanya di Pos penghubung (PHB) memerintahkan TK untuk membuka bungkusan tersebut yang ternyata di dalamnya berisi 4 Bungkus yang diduga narkotika jenis sabu-sabu, dan dengan disaksikan Kalapas Tolitoli, narkotika diduga jenis sabu ditimbang dengan berat 20.20 gram

“Saat ini tim opsnal satresnarkoba masih melakukan pengembangan Kasus ini, tim melakukan pencarian dan pengejaran terhadap OY tidak menutup kemungkinan adalah sebagai pemasok atau setidaknya memiliki narkotika jenis sabu,” jelasnya.

Dirinya menjelaskan terhadap tersangka (TK), polisi tidak melakukan penahanan di Rutan Polres Tolitoli, karena TK masih berstatus warga binaan di Lapas Klas 11 B Tolitoli yang menjalani hukuman penjara selama 4 tahun atas kasus yang sama, kepemilikan narkotika jenis sabu sabu sebanyak 18 gram pada tahun 2017. dan untuk kepentingan penyidikan atas kepemilikan sabu seberat 20.20 gram, yang tertangkap pada hari kamis 11 juli 2019.

“Sat Resnarkoba bekerjasama dengan pihak lapas, sewaktu waktu tersangka (TK) bisa di keluarkan dari lapas untuk kepentingan pemeriksaan,” ujar Hendro.

Terakhir Hendro menegaskan terhadap tersangka, dipersangkakan dengan Pasal 112 ayat 2 UU Ri no 35 tahun 2009 tentang narkotika dapat di pidana penjara paling lama seumur hidup atau penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 Tahun dan pidana denda maksimum

“Sebagai mana yang dimaksud pada ayat 1
Paling sedikit 800 juta Rupiah dan paling banyak 8 milyar Rupiah ditambah 1/3 (sepertiga),” pungkasnya.

Editor : YES