IBC, PELALAWAN – Persoalan hukum yang dialami dua orang warga Desa Tanjung Beringin Kecamatan Pangkalan Kuras kabupaten Pelalawan provinsi Riau memantik reaksi publik.

PT Musim Mas melalui Humasnya pada 11 Juni lalu melaporkan BY (50) dan AR (50) ke Polres Pelalawan dengan tuduhan Perambahan hutan yang berada di wilayah hutan konservasi yang berada diarea HGU Musimas.

Komunitas pemerhati lingkungan, Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) melihat sengketa pihak perusahaan dengan warga lokal disebabkan tidak tegasnya penetapan batas konsesi dan HGU.

“Tidak dilakukannya penetapan batas konsesi dan HGU perkebunan sawit yang sesuai dengan regulasi menjadi penyebab ketidaktahuan warga masyarakat, hal ini berimplikasi pada konflik sosial dan tenurial serta konflik kepentingan antara masyarakat dan pihak perusahaan.” kata Isnadi Sekjend JMGR kepada biro Indonesia berita melalui sambungan telepon, Sabtu (13/7/2019).

Isnadi mengungkapkan lalainya perusahaan dalam melakukan deliniasi mikro dan makro di areal konsesi dan HGU membuat kadang masyarakat terjebak.

“Lalainya perusahaan dalam melakukan deliniasi mikro dan makro di areal konsesi dan HGU membuat kadang masyarakat terjebak, masyarakat biasanya memanfaatkan kayu untuk kebutuhan hidupnya baik untuk perumahan, perahu dan kebutuhan pertanian maupun perternakan, mereka mencari hingga jauh ke dalam kawasan namun sebenarnya mereka tidak tahu apakah itu kawasan berizin atau konservasi, seharusnya perusahaan harus membuat papan informasi dan juga harus ikut serta dalam memberikan solusi akan kebutuhan kayu masyarakat, tidak boleh main tangkap dan lapor. Tidak mengayomi itu namanya.” ungkapnya.