IBC, JAKARTA – Pidato Presiden terpilih 2019-2024, Ir. H. Joko Widodo beberapa waktu yang lalu di SICC, Sentul, Jawa Barat, Minggu (14/7/2019) menunjukan bahwa Jokowi adalah pemimpin yang visioner. Pemimpin menajerial, mengetahui apa yang menjadi persoalan bangsa Indonesia saat ini.

Menurut Salah Satu Pengurus Nasional Komite Rakyat Nasional-Jokowi, (Kornas-Jokowi), Dudunk Durahman yang menyampaikan kepada redaksi, bahwa pidato visi Jokowi perlu disikapi dengan cermat, sebab kata dia, hal tersebut menjadi petunjuk untuk pembantunya di Kabinet Kerja Jilid II mendatang.

“Saya kira cukup jelas apa yang disampaikan pak Jokowi pada saat di SICC Sentul kemarin, salah satunya apa yang menjadi visinya bukan saja membangun SDM, tapi juga akan mencopot birokrasi yang menghambat proses perizinan yang berdampak kepada investasi,” ujar Dudunk saat dimintai tanggapannya, di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa persoalan mental birokrasi yang rusak menjadi warisan terdahulu perlu adanya terobosan dari menteri Jokowi yang akan mengemban amanah dari presiden terpilih.

“Karena kalau menterinya gak berani ya percuma, menteri Jokowi harus paham menginterpretasikan apa yang menjadi keinginan dari visi Jokowi untuk bangsa ini menjadi lebih baik lagi ke depan,” tambah Dudunk.

Kriteria menteri-menteri Jokowi tentunya secara umum harus berintegritas, setia pada agenda perubahan, keputusan-keputusannya berpihak kepada rakyat dan mau turun ke lapangan, “artinya bukan hanya berteori di balik meja, Menteri Jokowi harus kerja keras melakukan agenda-agenda perubahan bangsa ini, tanpa keluar dari rule of the game presiden Jokowi,” tegas dia.

Selain itu ia menambahkan, akibat momentum politik Pilpres telah melahirkan perbedaan yang tajam di masyarakat juga menjadi pekerjaan rumah yang berat, ditambah lagi kata Dudunk dengan adanya ideologi import mengancam ideologi Pancasila semakin menjadi tugas berat bangsa ini. “Ya kita tahu kemarin isu yang dibangun adalah politik identitas, yang akibatnya mengancam ideologi Pancasila,” jelas pria yang berpengalaman di dunia disain grafis ini.

Oleh karenanya sambung Dudunk, khususnya Mendikbud serta Menristekdikti adalah orang yang paling terdepan untuk menghalau, mempersempit ruang gerak ideologi-ideologi yang datang dari luar khususnya dalam dunia pendidikan, “apalagi mereka sudah beranak pinak di Pendidikan Tinggi,” ungkap Dudunk.

“Menristekdikti dan Mendikbud harus memiliki terobosan yang benar-benar bisa mempersempit ruang gerak mereka di dunia pendidikan, khususnya Menristekdikti memiliki pekerjaan rumah yang berat. Jadi proses rekrutment Menristekdikti harus ‘jeli’ dari awal, jangan sampai sosoknya gagal paham,” bebernya lagi.

Ia juga menegaskan bahwa Menristekdikti tidak hanya bergelar akademis yang baik, melainkan juga harus paham dunia gerakan khususnya di student. “Ya jujur aja ya sebaiknya Menristekdikti itu perlu dari mantan aktivis pergerakan, jadi benar-benar paham dan mendapatkan ruh-nya ketika mengeluarkan keputusan atau kebijakannya,” imbuhnya. Melajutkan, “Begitu juga dengan adanya aturan Menristekdikti jaman sebelum Presiden Jokowi yang mempermudah ruang gerak mereka masih dipergunakan sampai sekarang,” tutup Dudunk.

Penulis : FA

Editor : MJ