IBC, PELALAWAN – Pengadaan pakaian seragam bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 01 Pangkalan Kerinci tahun 2018 lalu diduga menjadi ajang mark up.

Pasalnya dengan dalih keputusan komite sekolah setiap siswa baru, dipungut uang sebesar Rp 2 juta untuk biaya pembelian 8 pasang seragam.

Hal ini terungkap ketika pihak Bono Tekstil selaku penjahit yang pernah menjadi mitra SMKN 01 Pangkalan Kerinci dalam pengadaan seragam di tahun 2018 lalu buka mulut di hadapan awak media.

“Pungutan uang pakaian siswa yang baru masuk di setiap sekolah tiap tahun, memang ajang bisnis. Contohnya SMK Negeri 01 Pangkalan Kerinci tahun 2018 lalu. Pihak sekolah memungut uang pakaian bagi siswa yang baru masuk dengan dalih dilakukan oleh komite. Padahal itu hanya skenario saja, sebab peran utama dimainkan oleh pihak sekolah,” ujar pihak Bono Tekstil di saat ditemui di workshop nya pada Jum’at (19/7/2019) di Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau.

Dikatakannya, SMK Negeri 01 Pangkalan Kerinci minta uang pakaian kepada setiap siswa total sebesar Rp 2 juta.

“Tarif pakaian diminta oleh pihak panitia pelaksana di sekolah sebesar Rp 270 ribu perpasang. Sementara Bono Tekstil hanya meminta paling mahal satu pasang Rp 185 ribu.” kata Bono Tekstil.

Lebih detail dibeberkan Bono Tekstil, seperti satu pasang baju nasional, baju pramuka, baju batik, baju khusus praktek (Prakerin), pihak sekolah memungut Rp 270 ribu per pasang. Untuk pakaian melayu per pasang diminta dari siswa sebesar Rp 260 ribu, baju olahraga dan baju MOS kepada setiap siswa dipungut Rp 200 ribu per pasang.

“Harga dari Bono Tekstil, baju nasional satu pasang Rp 185 ribu, baju batik Rp 170 ribu satu pasang, baju melayu harga Rp 140 ribu, dan baju khusus satu pasang harga sebesar Rp 170 ribu. Sedangkan beberapa pasang pakaian lainnya, dijahitkan di tailor lain, harganya juga pasti tidak akan jauh beda dengan harga di Bono Tekstil,” akunya.

Ia menambahkan, saat melakukan pungutan kepada siswa pihak SMK Negeri 01 Pangkalan Kerinci kala itu menggunakan tanda terima kwitansi dari Bono Tekstil.

“Dalam kwitansi itu ditulis harga yang dibuat pihak sekolah. Begitu pakaian sudah selesai, kwitansi tersebut dikembalikan kepada pihak sekolah.” tambah Bono Tekstil.

Kepala SMK Negeri 01 Pangkalan Kerinci Nurasia yang ditemui di kantornya Jumat (19/7/2019) langsung buang badan. Ia mengaku bahwa sekolah tidak mengurusi masalah pakaian siswa pada tahun 2018 sebab pihak komite sekolah lah yang mengurusi masalah pakaian tersebut.

“Jumlah uang pakaian yang dipungut pada tahun 2018 sebesar Rp 1,95 juta per siswa dengan jumlah siswa 660 orang. Tanya kepada Arman Harahap anggota komite yang mencatat pakaian siswa saat itu,” sarannya.

Nurasia juga menuding Bono Tekstil sengaja mencari sensasi atas permasalahan pakaian siswa.

“Lantaran pada tahun 2019 ini SMK Negeri 01 Pangkalan Kerinci tidak menjahitkan lagi pakaian siswanya di Bono Tekstil.” tudingnya.

Sementara itu pihak komite sekolah, Arman Harahap ketika dikonfirmasi, mengaku ikut membagikan baju kepada siswa untuk membantu karena lama diselesaikan oleh penjahit tahun lalu.

“Sehingga saya selaku anggota komite terpaksa turun tangan.” aku Amran.

Terkait harga pakaian yang diminta dari siswa pada tahun 2018, Arman mengaku tidak mengetahui.

“Yang buat MoU untuk memungut biaya pakaian saat itu adalah pihak sekolah dengan ketua komite. Setahunya total uang pakaian yang dipungut dari siswa pada tahun 2018 sebesar Rp 2 juta,” ucapnya.

Penulis: Sona/Faisal

Editor: MAS