Sambut Era Industri 4.0, Dirjenbud: Saatnya Berkarya Wujudkan Indonesia Bahagia

IBC, SLEMAN – Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, mengungkapkan bahwa Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) merupakan tindak lanjut Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) Tahun 2018.

“Kita lihat di dalam Kongres Kebudayaan itu minat dan keterlibatan anak muda sangat besar. Sayangnya, di kongres itu, anak muda yang berbicara masih terbatas,” ungkap Dirjen Kebudayaan.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menyinggung pentingnya pertemuan kaum muda Indonesia saat menyongsong era industri 4.0. Komplek Candi Prambanan dan Candi Sewu diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi lahirnya pemikiran-pemikiran baru yang progresif dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

“Selamat membangun prambanan-prambanan baru demi kemajuan bangsa yang tetap berbasis kebudayaan Indonesia,” kata Gubernur DIY.

KBKM 2019 diikuti 561 peserta yang tergabung dalam 132 kelompok dari 28 provinsi. Terdapat empat kelompok besar dalam KBKM 2019 yang mewakili ide besar yang diharapkan dapat diwujudkan sebagai solusi atas tantangan pemajuan kebudayaan, yakni Purwarupa Aplikasi (46 kelompok), Purwarupa Fisik (31 kelompok), Aktivasi Kajian (25 kelompok), dan Aktivasi Kegiatan (31 kelompok).

“KBKM menjadi ruang berkumpul, berekspresi, serta menghadirkan solusi atas permasalahan-permasalahan yang menjadi tantangan pemajuan kebudayaan oleh kaum muda,” jelas Dirjenbud.

Lanutnya, inisiatif yang digulirkan kaum muda dalam KBKM digagas sebagai jawaban atas satu atau lebih masalah dari Daftar Masalah Umum (DMU) Pokok Pikiran Kebudayaan (PPKD) Kabupaten/Kota.

“Sekarang ini saatnya berkarya untuk mewujudkan Indonesia bahagia,” ungkap Dirjen Kebudayaan.

Untuk menguatkan kolaborasi, maka kelompok kaum muda peserta KBKM akan dibantu tim fasilitator yang mendorong terciptanya interaksi yang sehat dan mendorong kolaborasi.

“Tim fasilitator KBKM bertugas untuk 1) mendorong diskusi yang produktif dalam kelompok agar kelompok berhasil menyusun proposal kelompok; 2) memberi inspirasi dan perspektif baru dalam upaya pemecahan tantangan pemajuan kebudayaan melalui bentuk-bentuk purwarupa/aktivasi inisiatif sosial tertentu; 3) menjalankan manajemen proyek dengan membantu kelompok membagi kerja, serta bekerja dalam tenggat waktu dengan capaian yang jelas,” ujar Hilmar.

Gagasan kaum muda yang telah dipertajam lewat bimbingan ini akan dipresentasikan di hadapan dewan juri pada tanggal 23 dan 24 Juli 2019. Kemudian akan dipilih 12 kelompok terbaik untuk akan mendapatkan dukungan fasilitasi dari Kemendikbud agar purwarupa dan aktivasi inisiatif sosialnya dapat diwujudkan.

“Semua bekerja sama untuk memastikan nanti ada 12 yang terbaik,” tutupnya.

Untuk diketahui upaya pemajuan kebudayaan merupakan gotong royong segenap elemen bangsa. Kaum muda Indonesia memiliki peranan penting dalam upaya pelindungan, pengembangan, pembinaan, serta pemanfaatan kebudayaan nasional, khususnya dalam menyambut era industri 4.0.

Editor : DR

Komentar
Loading...