IBC, PEKANBARU – Puluhan wartawan dari berbagai media melakukan aksi “Petisi Keadilan untuk Korban Kriminalisasi Pers” di Kejaksaan Negeri Kota Pekanbaru dan Kejaksaan Tinggi Riau, Rabu (24/7/2019).

Aksi tersebut adalah buntut dari tindakan kriminalisasi terhadap Pemimpin Redaksi Harian Berantas, Toro Laia yang tetap dikenakan eksekusi fisik (tahanan badan) meski telah dituntut Hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru tetap berada di luar tahanan.

Toro Laia dilaporkan oleh Bupati Kabupaten Bengkalis Amril Mukminin, terkait pemberitaan kasus dugaan tindak pidana korupsi dana bansos untuk Kabupaten Bengkalis yang berpotensi merugikan negara sebesar Rp 204 miliar dari jumlah anggaran sebesar Rp 272 miliar lebih, tahun 2012 silam. Atas hal tersebut, Toro dianggap melanggar Undang-Undang ITE.

Koordinator aksi Ismail Sarlata mengungkapkan, putusan hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru yang menetapkan terdakwa tetap berada di luar tahanan, yang selanjutnya dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru, telah berkekuatan hukum tetap.

“Namun kenyataannya, Pemimpin Redaksi Harian Berantas, Toro selaku terdakwa yang diputus oleh Pengadilan tetap berada di luar tahanan tersebut, dipanggil oleh Jaksa Penuntut Umum di Kejati Riau untuk dilakukan eksekusi fisik (tahanan badan). Ini negara hukum, bukan negara abal-abal,” kata Ismail dalam orasinya.

Ismail Sarlata meminta, Kejari Pekanbaru dan Kejati Riau segera menghentikan tindakan kesewenang-wenangan terhadap wartawan serta patuh pada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap untuk Toro.

Selain itu, Ismail Sarlata yang merupakan reporter news radiao (NewsRRI) Jakarta, dalam orasinya menuding Jaksa Penuntut Umum (JPU) diduga selama ini sengaja menggiring tugas wartawan pada pelanggaran undang-undang ITE.

“Kami minta Kepala Kejaksaan Negeri Pekanbaru dan Kejati Riau, segera memeriksa Jaksa Penuntut Umum yang mempelintir Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999 pada Undang-Undang ITE,” ujar Ismail.

Pihaknya (wartawan -red) juga medesak Kejati Riau agar mengusut tuntas sejumlah dugaan korupsi Bupati Bengkalis, Amril Mukminin yang sudah ditangani sejak dulu tanpa ada pembungkaman terhadap kemerdekaan Pers.

Ditempat yang sama, Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Uung Abdul melalui Kasipenkum Kejaksaan Tinggi Riau Muspidauan mengatakan, apa yang dialami oleh Toro adalah cobaan bagi insan pers.

“Masalah yang dialami oleh rekan kita Toro ini, cobaan buat kita semua. Kepada rekan-rekan Wartawan semua, bahwa poin tiga yang ada pada putusan pengadilan itu berlaku, semasa dalam persidangan saja,” tafsir Muspidauan.

Berikut pernyataan sikap para aksi dari insan Pers yang menuntut keadilan untuk Toro korban kriminalisasi Pers ke Kejari Pekanbaru dan Kejati Riau.

  1. Hormati tugas pokok Pers sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers;
  2. Hormati MoU antara Dewan Pers dan Kejaksaan Agung RI;
  3. Hormati SEMA Nomor 13 tahun 2008;
  4. Hormati Putusan Pengadilan Negeri Pekanbaru yang dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru yang telah berkekuatan Hukum Tetap;
  5. Hormati KUHAP Pasal 197 ayat (1) huruf (k);
  6. Kami mendukung Eksekusi sesuai Putusan Pengadilan Negeri Pekanbaru yang telah berkekuatan hukum tetap;
  7. Kami menolak Eksekusi fisik atau penyerahan badan ke Lapas Terhadap Pemimpin Redaksi Harian Berantas, Toro;
  8. Kami meminta Kejati Riau segera menuntaskan kasus dugaan korupsi Bupati Bengkalis dan kawan-kawan dalam Kasus Korupsi terhadap PT. BLJ Bengkalis tahun 2012 sebesar Rp300 Miliar. Kasus korupsi dana Bansos/Hibah Bengkalis tahun 2012 senilai Rp272 Miliar Lebih, Kasus Dugaan Korupsi dan/atau Suap/Gratifikasi Dana Proyek Jalan Multy Years (MY) di Bengkalis tahun 2013-2015 dan pada tahun 2017-2019, termasuk Kasus Dugaan Izajah Palsu Bupati yang sampai saat ini status hukumnya belum jelas.

Dalam demomenstrasi tersebut, juga dilakukan penyerahan keranda mayat kepada Kejati Riau sebagai simbol matinya hak-hak pers, kedaulatan pers dan matinya penuntasan kasus-kasus dugaan korupsi Bupati Bengkalis Amril Mukminin.

Hingga berita ini ditayangkan, Bupati Amril Mukminin di Bengkalis belum dapat dikonfirmasi oleh sejumlah awak media.

Penulis: Tim

Editor: MAS