IBC, OKI – Petani karet Desa Penanggoan Duren, Kecamatan Telungselapan, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, keluhkan penyakit gugur daun karet yang tak kunjung teratasi oleh pemerintah, ironisnya menurut salah satu petani karet Ardini, justru pemerintah ‘baru akan’ memperhatikan permasalahan ini dengan serius. Padahal penyakit tersebut sudah 4 tahun berlangsung.

“Dalam setahun 3 sampai 4 kali gugur daun, petani banyak ngeluh, apalagi anjloknya harga karet,” ujar Ardini saat dihubungi melalui pesan singkatnya, Kamis (25/7/2019).

Ia juga menyampaikan sampai sekarang masih bingung apa penyebabnya. “Kalau ditanyakan apa penyebabnya saya sendiri bingung apa penyebabnya,” kata pria karib disapa Nik ini.

Sambungnya menuturkan, bahwa dengan adanya penyakit tersebut petani karet di tempatnya sekarang hanya mendapatkan penghasilan per hari sebesar Rp 50 ribu, padahal ungkap Nik, biasanya petani mendapatkan per hari minimal Rp 100 ribu.

Baca Juga : Pemerintah Perhatikan Mewabahnya Gugur Daun Karet

“Getahnya dikit dapatnya sedikit, harganya murah. Jadi gak masuk akal lagi jadi petani karet,” imbuh Nik.

“Gak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, belum untuk anak sekolah, bisa-bisa kami gak makan, kalau terus begini mending kami beralih nyari pekerjaan lain,” lanjut dia.

Nik juga menambahkan, harapannya harga karet bisa naik, “sejak jaman pak Jokowi harga karet terus anjlok gak naik-naik, semua kami disini jadi susah, petani semua mengeluh. Saya ingin sekali ketemu pak Presiden Jokowi,” tutup Ardini.

Sementara itu seperti dilansir media ini, bahwa pemerintah juga menaruh perhatian atas mewabahnya penyakit tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, bahwa pemerintah terus memantau dan meperbahuri data serta informasi mengenai perkembangan penyakit gugur daun berikut dengan penangananya.

Demikian disampaikan Darmin Nasution di kantornya Jakarta, dalam rapat Koordinasi tentang karet, Rabu (24/7/2019) bersama Kementerian Pertanian.

Penulis : Jerry Yanto

Editor : DR