IBC, TANGSEL – Sebanyak 70 persen wilayah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dibangun oleh pengembang raksasa, seperti Sinar Mas, Bintaro Jaya, Summarecon, dan Alam Sutera. Nyatanya, Pemkot Tangsel yang hanya butuh 30 persen anggaran membangun fisik wilayah masih keteteran.

Demikian dikatakan Suhendar, pengajar Hak Asasi Manusia Universitas Pamulang (Unpam), dalam diskusi “Satu Dekade Lebih, Membaca Masa Depan Kota Tangerang Selatan”, Sabtu (3/8/2019). Selain Suhendar, pembicara lain dalam diskusi adalah pengamat politik Ray Rangkuti dan Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Siti Khadijah.

“Fokus pembangunan fisik Pemkot Tangsel sesungguhnya hanya 30 persen. Seharusnya warga Tangsel mendapatkan lebih dari apa yang ada saat ini,” kata Suhendar.

Tetapi faktanya, banyak fasilitas publik di Tangsel yang tidak terurus, tiang listrik di tengah jalan raya, dan berbagai kesemrawutan lainnya. Ini menunjukkan lemahnya perencanaan tata kota di Tangsel.

Suhendar juga menyoroti capaian Kota Tangsel di sektor pendidikan. Angka partisipasi masyarakat yang bersekolah tingkat SD masih 96 persen, artinya masih ada 4% yang tidak sekolah. Sentara tingkat pendidikan SMP dan SMA masing-masing 83 persen dan 72 persen.

Fakta ini kontradiktif dengan motto Kota Tangsel yang ‘Cerdas Modern Religius’. “Padahal pilar untuk menjadi cerdas adalah pendidikan,” ujarnya.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Mahasiswa UIN Ciputat, Suhendar yang juga dikenal sebagai aktivis Anti Korupsi ini menyinggung sektor pendidikan yang masih belum bisa lepas dari pungutan liar (pungli). Apalagi baru-baru ini mencuat kasus guru Rukmini yang dipecat karena membongkar pungli.

Sementara di bidang kesehatan, RSUD Kota Tangsel turun grade dari yang semula kategori C kini menjadi D. Dalam sektor lingkungan, banyak sungai di Kota Tangsel tidak diperhatikan. Dia mencontohkan sepadan atau pinggiran sungai Cisadane saja masih kotor, atau istilahnya “bala”.

Padahal, kata akademisi ini, sungai adalah kekayaan alam dan karunia seharusnya dikelola secara baik bisa menguntungkan masyarakat. Suhendar membandingkan dengan Pemkot Tangerang yang lebih serius dalam mengelola sungai Cisadane.

Dengan semua problem ini, jika mengacu pada ‘welfare state’, Kota Tangsel masih jauh,” beber Suhendar. Oleh sebab itu dia berharap momentum pilkada 2020 partisipasi masyarakat tinggi untuk memilih Wali Kota yang progresif dan kaya gagasan untuk membangun Tangsel.

Penulis : HR

Editor : MJ