IBC, JAKARTA – Kasus penipuan terhadap para jemaah haji dan Umroh kembali terjadi di Solo. Kasus ini bermula dari PT Al Ghaniy Assalam yang menawarkan paket umroh murah kepada calon jemaah sejak tahun 2016. Hakim Abdullah Saeed, selaku direktur PT Al Ghaniy Assalam, saat itu menjanjikan bahwa proses belanja paket akan dilakukan secara transparan.

Hal itu diungkapkan oleh Siponi, salah satu perwakilan jemaah dari Solo yang menjadi korban penipuan tersebut. Ia mengaku, pada awalnya dia percaya saja dengan tawaran dari PT. Al Ghaniy Assalam. Namun, setelah mereka mengirimkan uang untuk berangkat umroh dan naik haji, PT. Al Ghaniy menggelapkan uang tersebut.

“Dulu kami kenal PT. Alghaniy Asalam yang diketuai Dr. Hakim itu melalui Pak Syafruddin cabang Bekasi. Saat itu kita ditawarkan umroh dan Haji untuk tahun 2018. Kemudian kami respon, ada jemaah yang mau daftar, kami ketemu langsung dengan Dr. Hakim. Ia presentasi di depan kami tentang umroh dan haji itu. Kami akhirnya percaya dan yakin, bahkan beberapa ustadz yang berpengaruh di Solo akhirnya ikut daftar dan membawa jemaah sekitar 20 orang,” ungkap Siponi.

Ia juga menyampaikan, PT. Al Ghaniy Assalam ternyata hanya melakukan penipuan karena jemaah yang sudah membayar ke PT. Al Ghaniy gagal berangkat. “Ya Awalnya kami percaya dengan PT. Alghaniy Assalam. Saya sebagai perwakilan dari solo sebagai pencatat administrasi pun merasa tertipu dan dibohongi. Pada akhirnya pada hari keberangkatan jemaah haji tahun 2018, apa yang dijanjikan dari PT. Alghaniy Assalam molor. Kita dijanjikan terus, alasan banyak, visa belum bisa keluar, dan lain-lain,” terangnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, dirinya dan jemaah yang batal berangkat umroh karena ditipu oleh Perusahan bodong.

“Kita curiga, kita survei ke lapangan, ternyata memang Dr. Hakim ini atau PT. Alghaniy Assalam ini adalah perusahaan travel bodong atau bermodus penipuan. Kita juga mendengar langsung keterangan warga sekitar rumahnya bahwa sudah banyak yang tertipu. Dia pernah mengundang 15 orang perwakilan dari solo ke Jakarta yang menuntut penjelasan soal bukti booking pesawat dan hotel, tetapi dia malah berjanji akan mengembalikan uang jemaah karena tidak bisa memberikan bukti,” bebernya.

Menurutnya, alasan yang disampaikan Dr. Hakim tidak masuk akal. “Dia selalu berjanji tetapi tidak ada realisasi. Mereka terus berjanji supaya jemaah tenang. Hingga dia mati tidak ada janji yang ditepati,” kata dia.

Akibat penipuan tersebut ada 35 orang jemaah asal Solo tidak diberangkat dan total kerugian mereka mencapai sebesar Rp 2,5 miliar.

“Sekitar 35 calon jemaah umroh batal diterbangkan pada tanggal 28 Desember 2016, sebagaimana yang dijanjikan oleh Bapak Hakim kepada calon jemaah haji dan umroh. Sebanyak 35 calon jemaah haji dan umroh yang gagal berangkat, tetapi uang milik mereka yang berjumlah 2,5 Miliar tidak dikembalikan oleh PT Al Ghaniy Assalam sampai sekarang. Sebagian besar, kami berlatar belakang petani, nelayan, dan pedagang kecil yang telah mengumpulkan dana haji dan umroh itu selama bertahun-tahun,” ungkapnya kepada media, Senin (5/08/2019) kemarin.

Para jemaah haji dan umroh itu sampai sekarang masih berusaha untuk mencari keadilan atas kerugian materi karena penipuan yang dilakukan oleh PT Al Ghaniy Assalam. Mereka menuntut ganti rugi, sambungnya.

Siponi melanjutkan penjelasannya, dalam proses pengembalian dana tersebut, hanya dua orang yang selesai dilunaskan. Selain itu, pengembalian semakin menjadi rumit karena Dr Hakimnya telah meninggal dunia sebelum menyelesaikan masalah.

“Sebagian besar calon jemaah haji dan umroh yang tertipu berlatar belakang petani, sopir, ibu rumah tangga dan sebagainya. Karena itu, mereka membutuhkan waktu untuk bisa mengumpulkan uang untuk naik haji. Bahkan, ada yang sampai menjual aset atau tanah. Jemaah itu ada yang sampai menjual aset rumah, menjual tanah, sawah, ladang, ingin naik haji dan ada yang menabung. Kami berharap uang yang masuk ke PT. alghaniy Assalam bisa dikembalikan.” tutup Umar siponi,

Editor : MAS