IBC, JAKARTA – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (Sekjen PB HMI), Taufan Ikhsan Tuarita mengutarakan beberapa pendapat perihal pembentukan Koopsus (Komando Operasi Khusus).

Menurut Taufan, Pemerintah cenderung gagal dalam membentuk pasukan anti terror di Indonesia.

“Dibentuknya Koopsus TNI yang sebagian tugasnya adalah anti terror di Indonesia menandakan kegagalam dari pasukan anti teror yang sudah ada,” tuturnya kepada wartawan di Sekretariat PB HMI, Selasa (6/8/2019).

Pertama saya melihat ini sebuah kerancuan dari solusi atas kondisi terorisme di Indonesia. Pembagian kerja antara kesatuan anti teror akan menjadi polemik baru.

“Pengambilan keputusan dari sebuah teror nantinya akan bergejolak dari sisi instruksi wewenang yang berbeda. Dan, dari Perpres tahun nomor 42 tahun 2019 saya menilai belum adanya ukuran yang jelas atas pembagian tugas,” proyeksi Taufan.

Kedua Koopsus yang digadang sebagai pasukan khusus yang beranggotakan dari tiga matra pasukan elit yaitu Angkatan Laut, Angkatan Darat dan Angkatan Udara menjadi produk baru yang lebih mapan.

“Tapi, apalagi yang menjadi tolak ukur kemampuan dari pasukan khusus tersebut. Ini patut dipertanyakan,” kata Taufan.

Ketiga, pembengkakan anggaran menjadi besar. Seperti dillansir Tempo pengajuan anggaran mencapai angka 1,5 triliun.

“Dengan pembangunan sarana prasarana dan kebutuhan lainnya. Angka yang cukup besar untuk sebuah pasukan anti teror,” sebutnya.

Taufan menegaskan, ini sebuah kerancuan di antara pasukan-pasukan anti teror.

“Mulai dari Densus 88, BNPT dan Koopsus, harus ada aturan yang jelas terhadap satuan komando dan tugasnya,” pungkasnya.

Penulis: Fauzaki

Editor: MAS