IBC, TALAUD – Dua dari lima unit mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dimiliki PT PLN (Persero) ULP Melonguane, tak beroperasi lagi sejak akhir Juli lalu.

Hal ini disebabkan gangguan pada 1 unit mesin PLTD kapasitas 1000 kW di Desa Tarun dan Pemeliharaan Mayor Overhoul (MO) 1 unit PLTD Melonguane kapasitas 500 kW.

Hingga kini, ULP Melonguane menyatakan masih mengalami kendala dalam menormalkan pasokan listrik di sejumlah wilayah di Pulau Karakelang yang mengalami gangguan dan masih akan melalukan pemadaman listrik.

Atas kendala itulah, Manager PT PLN (Persero) ULP Melonguane Ferry Kalisang mengatakan, penyebab utama listrik di Kabupaten Kepulauan Talaud sering padam karena 2 unit mesin PLTD yang tidak beroperasi. Selain itu, secara global dipengaruhi oleh faktor alam dan cuaca ekstrim yang melanda Talaud akhir-akhir ini.

“Untuk Melonguane, saat ini kita padam karena memang lagi defisit. Ada 2 unit, yang satunya gangguan, yang satunya lagi sedang pelaksanaan pemeliharaan. Yakni PLTD Tarun dan PLTD Melonguane. Sehingga kita kekurangan daya sekitar 300 kW di sistem, dan harus melakukan pemadaman bergilir,” ungkap Kalisang kepada Indonesia Berita ketika ditemui diruang kerjanya, Selasa (6/8/2019).

Pihak PLN sendiri kata Ferry, terus berupaya dan mencari solusi agar pemadaman listrik ini bisa teratasi.

“Jadi, untuk Melonguane kita lagi upayakan percepatan 1 unit PLTD yang gangguan, kemudian percepatan pemeliharaan listrik yang masuk dalam pemeliharaan. Kita lagi upayakan dalam waktu dekat sudah bisa pulih, dan bisa bergabung dengan sistem sehingga pemadaman bisa teratasi,” ungkapnya.

Menurut Ferry, upaya-upaya yang dilakukan pihak PLN untuk mengatasi permasalahan listrik itu sudah ada.

Mereka telah mengusulkan proses percepatan perbaikan dan membantu proses pengadaan suku cadang untuk 2 unit mesin PLTD tersebut.

“Kalau untuk penambahan mesin itu, kami sudah pernah mengusulkan. Kita melihat faktor pertumbuhan ekonomi, faktor pertumbuhan kebutuhan listrik. Kami melihat dari situ. Dasar itulah yang menjadi pertimbangan manajemen, apakah harus menambah kapasitas mesin atau tidak,” ungkap Kalisang.

Kalisang menambahkan, gangguan yang terjadi pada 2 unit mesin ini dikarenakan PLTD beroperasi selama 1×24 jam tanpa stop. Akibatnya sering mengalami gangguan.

“Yang beroperasi sekarang ini ada 3 unit. Untuk ULP Melonguane, 3 unit itu tidak cukup sih sebenarnya. Makanya defisit yang 300 kW, sehingga kita melakukan pemadaman. Kalau 2 unit ini selesai, jadi total yang siap beroperasi itu ada 5 unit,” tambahnya.

Surat Edaran PT PLN (Persero) ULP Melonguane terkait Jadwal Pemadaman Listrik di Wilayah Pulau Karakelang. Foto: Melky Zedeck/ Indonesia Berita

Kalisang mengungkapkan, terkait jadwal pemadaman listrik di Pulau Karakelang yang dikeluarkan pihak PLN sampai pada akhir bulan (Agustus – red), akan diupayakan sebelum akhir bulan, masalahnya sudah bisa teratasi.

“Ini belum janji. Karena pertama materialnya ini kan tidak ada di Indonesia. Jadi kita pesan dulu untuk mesin yang perbaikan ini kan butuh material, tergantung kecepatan materialnya. Akan kita upayakan akhir bulan ini sudah bisa teratasi. Kalaupun pemadamannya berlanjut, berarti materialnya belum ada,” tutur Ferry.

Terkait pemadaman listrik yang tidak sesuai jadwal, menurut pihak PLN hal itu bukan disengaja. Melainkan ada salah satu unit yang mengalami gangguan sehingga harus dilakukan pemadaman.

“Kalau padam di luar yang terjadwal, itu karena mengalami gangguan jaringan. Misalnya ada dahan pohon yang kena di jaringan, ada layang-layang di jaringan, ada pohon tumbang, itu yang bisa menyebabkan kabel putus,” kata Ferry.

Sehingga, lanjut Ferry, hal itu diluar kemampuan PLN untuk mendeteksi kapan pohon itu tumbang, kapan ranting itu mengenai salah satu jaringan.

“Kalau pun terkendala tidak cepat menyala, kadangkala ada salah unit yang terkena hentakan dan mengalami trouble (masalah – red), sehingga butuh waktu 1 s/d 2 jam untuk memperbaikinya,” pungkasnya.

Editor: MAS