IBC, JAKARTA – Seperti diketahui, akibat gangguan turbin listrik di Suralaya dan Cilegon pada Minggu (4/8/2019), masyarakat di Jabodetabek, Banten, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah terkena dampak pemadaman listrik selama sepuluh jam.

Selain menghambat aktivitas masyarakat, pemadaman listrik secara massal dengan rentang waktu yang lama dapat menjadi ancaman keamanan nasional.

Pengamat Intelijen, Stanislaus Riyanta mengungkapkan pemadaman yang terjadi mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu, fasilitas pelayanan public seperti MRT dan KRL terhenti, PAM tidak mengalir, ATM tidak berfungsi serta lampu lalu lintas mati.

“Dampak lain yang cukup beresiko adalah fasilitas-fasilitas keamanan, seperti cctv tidak berfungsi. Beberapa peralatan keamanan yang tergantung dengan listrik, seperti metal detector juga tidak berfungsi. Hal tersebut tentu menjadi celah datangnya gangguan keamanan,” ujar pria yang akrab dipanggil Stanis.

Lenih lanjut ia menyampaikan, Fasilitas-fasilitas publik yang mudah terganggu karena padamnya listrik sangat berbahaya jika ada pihak-pihak yang memicu dan menciptakan agar suasana menjadi kacau seperti melakukan gangguan keamanan, tindakan kriminal dan lainnya.

“Dalam suasana lumpuhnya aliran listrik, berbagai bentuk kejahatan dan provokasi kepada massa akan lebih mudah dilakukan dan lebih sulit untuk dikendalikan. Sistem keteraturan sosial yang terjadi di masyarakat juga sudah renggang karena situasi tidak kondusif,” ucap Stanis.

Padamnya listrik dalam skala luas juga berbahaya jika dimanfaatkan oleh kelompok teroris. Padamnya listrik membuat celah kerawanan melebar yang akan menguntungkan jika kelompok teroris beraksi. Hal lainnya adalah situasi ini bisa menjadi inspirasi bagi teroris untuk melumpuhkan kota-kota besar dengan cara mengganggu jaringan listriknya.

Masih menurut Stanis, dengan padamnya listrik dalam skala besar, maka secara langsung menghambat pasokan energi dan menganggu perolehan pangan. Jadi nilai strategis listrik dalam ketahanan nasional sangat tinggi. Hal ini patut menjadi perhatian serius mengingat monopoli PLN dan risikonya yang bisa menjadi sumber ancaman ketahanan nasional.

“Mengingat hal tersebut, maka pemerintah perlu mencermati berbagai skenario terkait hal-hal strategis termasuk gangguan listrik secara masal dan membangun strategi untuk menghadapinya,” kata Stanis.

Stanis menambahkan, bahwa berbagai erbagai kekacauan yang muncul karena padamnya listrik secara masal dan dalam jangka waktu yang panjang perlu dihadapi dengan langkah-langkah yang tepat dan cepat, “seperti turunnya petugas keamanan untuk memastikan lancarnya lalu lintas, penjagaan di obyek vital, patroli, pengerahan sarana transportasi dan logistik, dan langkah tanggap darurat lainnya yang bersifat mencegah terjadinya ketidakteraturan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan penelusuran redaksi Indonesia Berita, listrik merupakan salah satu indikator dan variabel kemajuan suatu masyarakat. Karena itu, listrik menjadi salah satu alat maupun objek vital negara.
Dalam strategi perang konvensional maupun modern, salah satu objek vital yang harus dilindungi atau diserang untuk mempertahankan atau melumpuhkan lawan adalah listrik dan air.

Penulis : Zeki
Editor : MJ