Oleh: Radityo Yudi

Peneliti PKP Berdikari

Era kolonial telah berlalu. Kini kita sedang memasuki era generasi millenial, dimana kecepatan dan inovasi menjadi tumpuan.

Pada 2020 mendatang, Indonesia diprediksi tengah berada dalam kondisi bonus demografi. Penduduk produktif yang berada pada kelompok usia 20-40 tahun, atau sering disebut generasi milenial, mendominasi postur penduduk.

Wajar saja bila hampir semua lini sedang berlomba merebut hati para milenial. Dari pelaku korporasi hingga politisi, bekerja keras memoles diri agar lebih dilirik oleh anak muda. Bahkan mereka tak segan mendobrak tradisi kelembagaan yang sudah mapan karena dianggap kuno untuk diterapkan saat ini.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) yang tengah melaksanakan Kongres V di Bali, dikabarkan sedang meramu strategi khusus untuk menggaet milenial. Ketua Tim Pengarah Kongres V Djarot Saiful Hidayat menilai, anak muda akan menjadi pemilih dengan jumlah yang sangat besar pada pemilu 2024. “PDI Perjuangan harus mulai memikirkan bagaimana mengajak generasi milenial mengenal parpol dan politik”, ujar Djarot seperti diberitakan HarianKompas, Kamis (7/8/2019).

Strategi tersebut sangat relevan bila merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait kependudukan. BPS mencatat, jumlah penduduk Indonesia tahun 2018 pada kelompok umur 15-34 tahun mencapai 85,7 juta. Disamping itu, ada 22,8 juta penduduk pada kelompok usia 10-14 tahun, yang sebagian diantaranya akan menjadi pemilih pemula 5 tahun mendatang. Sedangkan penduduk berumur 35-54 tahun hanya berjumlah 71,7 juta.

Tidak hanya PDI Perjuangan, Partai Golkar juga tengah membidik taget yang sama. Jelang Munas Golkar yang diagendakan berlangsung pada Desember 2019, dua kandidat ketua partai berlambang beringin berebut dukungan anak muda.

Kelompok anak muda yang menamakan diri Generasi Milenial Airlangga Hartanto (GEMA) Golkar, pada Rabu malam (31/7/2019) mendeklarasikan dukungan kepada Airlangga untuk kembali memimpin partai Golkar. Kelompok itu mengklaim Airlangga adalah sosok yang tepat karena kepeduliannya kepada regenerasi partai. Sekitar sebulan sebelumnya, Bambang Soesatyo mengadakan Halal bi Halal dengan Golkar Milenial di Rumah Dinas Ketua DPR Jakarta, pada Jumat (28/6/2019).

Di kalangan partai politik, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sudah lebih cepat membangun branding sebagai partainya anak muda. Meski gagal memenuhi parliamentary threshold untuk masuk ke senayan, PSI berhasil mendapat kursi DPRD di beberapa daerah di Indonesia. Keberhasilan PSI tak lepas dari peran generasi milenial. Kader-kader muda PSI muncul ke publik dengan gestur dan pemikiran yang mudah diterima para milenial.

Presiden Joko Widodo juga berulang kali mengungkapkan hal serupa. Bagi Presiden Jokowi, sudah saatnya anak muda mengambil peran yang lebih besar dalam proses pembangunan. Bahkan sempat tersiar kabar Jokowi akan menunjuk anak-anak muda berusia 20-30 tahun untuk membantunya dalam kabinet mendatang.

Kesadaran untuk beradaptasi dengan generasi milenial sebenarnya telah lebih dulu diterapkan dalam dunia bisnis. Gojek misalnya. Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi ini mencapai kejayaan dalam kurun waktu yang jauh lebih singkat dibanding perusahaan konvensional lainnya.

Nadiem Makarim yang genap berusia 35 tahun pada juli lalu, dinilai sebagai tokoh muda yang mempu mengelola generasi milenial dengan baik. Sebagai bagian dari generasi itu sendiri, Ia memahami betul bagaimana perilaku pekerja sekaligus perilaku konsumen dari generasi tersebut. Terutama ketergantungan generasi ini terhadap gawai dan internet.

Berbekal kemudahan, kecepatan, dan inovasi yang ditawarkan dari berbagai layanannya, Gojek berhasil memikat milenial yang menjadi basis konsumennya. Maka tidak heran jika Gojek menjelma menjadi raksasa bisnis dengan valuasi sebesar USD 10 juta dan total pengguna lebih dari 50 juta orang.

Perusahaan yang mayoritas pegawainya adalah anak muda ini, juga dinilai turut berpartisipasi dalam upaya menekan angka pengangguran dan peningkatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Komitmen partai politik dan pemerintah dalam menggaet anak muda, merupakan sinyal positif untuk bahu-membahu merancang strategi besar dalam mengelola bonus demografi. Pasalnya, bonus demografi kerap dikaitkan dengan peluang Indonesia menjadi salah satu perekonomian terkuat di dunia pada 2045 mendatang.

Untuk itu, generasi milenial harus dipandang sebagai kekuatan baru yang perlu berperan aktif dalam melangsungkan pembangunan, bukan sekedar target pemilih atau target konsumen.

Penulis adalah peneliti PKPBerdikari yang konsentrasi dengan penelitian Sosial dan Politik.