Oleh :

Muhammad Kashai Ramadhani Pelupessy

IBC, TERNATE – Hari ini tepat pada 11 Agustus 2019, sekitar 7,3 miliar penduduk muslim di bumi merayakan idul adha. Tabuhan bedug di tambah suara takbir, allahu akbar allahu akbar, menggema ke seantero pelosok bumi. Tua dan muda bersatu dalam satu teriakan yang sama, yakni takbir. Indah dan harmonis.

Di padang Arafah, jutaan ummat muslim juga bersatu dengan pakaian yang sama, yakni kain ihram, dari tua sampai yang muda, pria dan wanita, semua sama dimata Allah, putih bersih bersahaja. Sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, semua jamaah haji sudah harus berdiam diri di padang Arafah, wukuf sebagai proses mengenali “siapa saya” dan “kepada siapa saya harus menyembah”. Semua terdiam.

Sedangkan di Indonesia, khususnya di Jawa, idul adha di meriahkan dengan pawai kostum, dari remaja sampai dewasa, semua menggunakan busana Jawa. Sampai-sampai mobil pick-up pun juga di busanakan. Semua berkeliling kampung dengan satu teriakan yang sama, takbir!

Baik di padang Arafah dengan kostum yang sama, juga di Indonesia khususnya di Jawa dengan kostum yang sama, hal ini memperlihatkan adanya aktualisasi nilai-nilai persatuan yang sangat nyata. Mungkin inilah maksud Allah mempersembahkan pada hamba-Nya melalui perayaan idul adha, bahwa persatuan ini sangatlah penting, wallahua’lam.

Namun, terkadang manusia sering lupa bahwa persatuan ini sangatlah penting. Penyebabnya ialah karena manusia belum sadar dengan dirinya sendiri bahwa manusia hadir dalam situasi yang sangat majemuk. Padahal, kemajemukan ini di ciptakan Tuhan agar manusia selalu sadar dengan dirinya sendiri.

Snijders dalam bukunya “Manusia Paradoks” mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat unik. Atas dasar keunikan inilah maka kemajemukan mutlak terjadi. Sadar dengan diri yang unik akan mengantarkan manusia pada anggapan bahwa kemajemukan adalah buah dari keberadaan dirinya sendiri, sehingga persatuan menjadi poin penting.

Dalam situasi yang sangat majemuk ini, kita juga sangat membutuhkan implementasi nilai-nilai kosmopolit, mungkin bisa dianggap sebagai tiang dari persatuan. Artinya, disamping sadar dengan keunikan diri sendiri, juga diperlukan nilai-nilai kosmopolit sehingga persatuan dapat terjadi.

Menurut waliyullah Gus Dur bahwa nilai-nilai kosmopolit bertumpu pada lima sumber utama, yakni keselamatan fisik, keselamatan keyakinan agama, kesalamatan keluarga dan keturunan, keselamatan harta benda dan profesi, serta keselamatan hak milik.

Hal yang paling utama dari nilai-nilai kosmopolit ini ialah pada kata “keselamatan”. Bahwa Islam juga mengajarkan konsep keselamat dan sebagaimana yang di serukan Rasulullah saat melakukan haji wada’ di hari raya idul adha kala itu. Rasulullah menyerukan:

“Wahai sekalian manusia. Dengarkan kata-kata ini dan perhatikan! Setiap muslim adalah saudara buat muslim yang lain, dan kaum muslim semua bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.”

Jika kita perhatikan seruan Rasulullah itu, sebagaimana juga selaras dengan maksud bapak pluralisme Gus Dur, mengatakan sebetulnya umat muslim sudah memiliki sederet perkakas untuk membangun rumah persatuan. Maka perayaan idul adha ini pun juga sebagai titik perenungan bahwa umat muslim harus menyadari keunikan diri sendiri melalui keberadaan perkakas kosmopolit ini, dan kapan digunakan perkakas ini adalah soal waktu saja.

Semoga di hari idul adha ini kita semua kembali pada hal-hal yang di maksud Allah dan Rasul-Nya, bahwa persatuan ini sangatlah penting. Wallahua’lam.

Penulis adalah Penggiat literasi Maluku Utara

Editor : MAS