IBC, TALAUD – Kurang lebih 3.000 massa pendukung Bupati dan Wakil Bupati Talaud terpilih periode 2019 – 2024, Elly Engelbert Lasut (E2L) dan Moktar Arunde Parapaga (MAP), kembali berunjuk rasa di halaman Kantor Bupati dan Kantor DPRD Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (13/8/2019) kemarin.

Pantauan Indonesia Berita, massa mulai berkumpul sejak pukul 09.00 Wita di Kawasan Wisata Pantai Indah Melonguane, kemudian bergerak ke Kantor Bupati dengan berjalan kaki sambil membawa spanduk dan poster yang bertuliskan tuntutan – tuntutan mereka dalam aksi tersebut.

Saling dorong antar massa dan petugas pengamanan dari pihak Kepolisian dan Satpol PP, sempat terjadi didepan gerbang Kantor Bupati disaat massa ingin menerobos barikade pengamanan.

Setelah bernegosiasi, massa diizinkan masuk ke halaman kantor Bupati untuk bertemu langsung Plh Bupati Kepulauan Talaud, Adolf Binilang dan mendapat pengawalan ketat dari pihak Kepolisian dan TNI.

Ribuan massa yang berasal dari berbagai desa dan tergabung dalam “Aksi 22 656 Selasa Merah Putih” ini, kembali menuntut dan mendesak Pemerintah untuk segera melaksanakan pelantikan terhadap E2L – MAP sebelum 17 Agustus 2019.

Minta kepastian Pelantikan, ribuan pendukung E2L – Mantap menuju ke Kantor Bupati Kepulauan Talaud, Selasa (13/8/2019) kemarin. Foto : Melky Zedeck/Indonesia Berita

“Kehadiran kami disini adalah untuk menyuarakan aspirasi dan tuntutan kami sebagai warga Talaud yang telah memilih pasangan E2L Mantap. Kami minta, segera lakukan pelantikan. Jangan ada penundaan lagi!,” tegas Renalto Tumarah, yang menjadi salah satu orator dalam aksi tersebut.

Kami tidak mau, kata Renalto, proses demokrasi di Talaud diinjak-injak dan dipermainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang hanya merusak tatanan demokrasi di daerah ini.

“Matinya demokrasi di Kabupaten Kepulauan Talaud. Oleh karena itu, kami melawan ketidakadilan yang terjadi di Kabupaten Talaud ini. Kami minta Pak Plh Bupati untuk segera melayangkan surat kepada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi agar E2L Mantap secepatnya dilantik,” desaknya

Hal yang sama pula dikatakan Yahya Malensang, selaku koordinator lapangan (korlap) dalam aksi tersebut.

Menurut Yahya, aksi yang dilakukan itu, merupakan warning (peringatan – red) kepada Pemerintah Pusat maupun Provinsi, agar tidak menunda-nunda dan memperlambat pelantikan E2L – Mantap.

“Warning kami sebagaimana petisi yang merupakan pernyataan sikap dari aksi 22 656, dengan tujuan menuntut segera Bupati terpilih E2L – MAP dilantik. Kami minta batas waktu pelantikan tanggal 15 Agustus,” ucap Malensang

Yahya menegaskan, apabila sampai batas waktu yang telah ditentukan dan tuntutan mereka tidak dipenuhi, maka aksi yang sama akan dilakukan sampai ada kejelasan terkait pelantikan Bupati dan Wakil Bupati terpilih.

“Diluar petisi itu, bahwa sikap kami akan kembali lagi dalam massa yang lebih banyak,” serunya.

Ribuan massa pendukung E2L – MAP, saat memasuki Gerbang Kantor Bupati Talaud, Selasa (13/8/2019) kemarin. Foto : Melky Zedeck/Indonesia Berita

Sembari diteriakkan, lantik jo, lantik jo! SK so ada kwa, kiapa leh lama-lama mo lantik. Lantik jo E2L Mantap, so sah kwa.

“Lantik saja, lantik saja. SK nya sudah ada kok. Kenapa terlalu lama dilantik. Lantik saja E2L Mantap karena sudah sah,” teriak massa sambil mengibarkan bendera Merah Putih dan menyuarakan yel-yel E2L Mantap.

Usai menyuarakan aspirasi mereka, massa meminta Plh Bupati Talaud untuk segera membuat surat yang ditujukkan kepada Pemerintah Pusat dan Provinsi agar mendesak pelantikan E2L – MAP segera dilakukan.

Namun, kekesalan massa mulai nampak ketika Plh Bupati tak kunjung keluar dari ruang kerjanya untuk menyampaikan hasil dari tuntutan mereka tersebut.

Massa yang kesal pun mulai membakar ban didepan Kantor Bupati, sehingga tampak kepulan asap hitam menutupi hampir seluruh ruangan kantor tersebut.

Tak hanya itu, aksi ini juga nyaris ricuh disaat Plh Bupati hendak meninggalkan lokasi, yang membuat mereka marah karena dianggap mengindahkan dan tak ingin mendengarkan tuntutan mereka.

Editor : MAS