IBC, SIAK – Pemungutan uang pakaian seragam siswa baru di SMP Negeri 05 Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, pada bulan Juli tahun 2019 lalu diduga ajang mark up.

“Kepada siswa diminta uang pakaian Rp 1,5 juta lebih. Tidak hanya itu, setiap siswa juga diminta uang bangku Rp 425 ribu.” katasejumlah orang tua siswa kelas VII SMP Negeri 05 Kerinci Kanan yang berhasil ditemui media Indonesia Berita.

Orang tua siswa yang meminta identitas mereka dirahasiakan menyampaikan, sebanyak Rp 924 ribu dipungut untuk biaya bakal kain empat pasang dan satu pasang baju pramuka.

“Sedangkan biaya jahit empat pasang pakaian diluar baju pramuka, dipungut sebesar Rp 150 ribu perstel.” ungkap orang tua siswa.

Ketua panitia penyelenggara penerimaan peserta didik baru (PPDB) Ermawarti saat ditemui beberapa waktu lalu tidak mau menerangkan masalah itu. Dia meminta untuk dikonfirmasi langsung kepada Kepala Sekolah SMPN 05 Kerinci Kanan.

“Saya tidak berani menjelaskan hal itu karena saya hanya sebagai bawahan. Lebih baik bapak-bapak jumpai saja kepala sekolah,” ujar Ermawati kepada awak media.

Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 75 tahun 2016 bahwa sekolah dilarang melakukan punggutan apa pun.

Dalam peraturan tersebut dijelaskan pihak sekolah dilarang melakukan punggutan terhadap uang SPP, sumbangan pembangunan, biaya les, daftar ulang, iuran ultah sekolah, ujian semester dan tengah semester, pembelian buku LKS dan hingga biaya seragam sekolah.

Sukirman salah seorang tenaga guru mengaku kepala sekolahnya beberapa hari lalu baru masuk sekolah.

“Tidak tahu kalau memang ada janjian dengan ketua panitia PPDB (Ermawati) untuk menghubungi awak media saat kepala sekolah masuk.” ujarnya.

Kepala Sekolah SMPN 05 Kerinci Kanan Samaun yang sudah dihubungi berulang kali tidak pernah mengangkat telefonnya. Konfirmasi melalui aplikasi whatssAp juga enggan dibalasnya.

Sejumlah siswa SMPN 05 Kerinci Kanan, mengatakan bahwa kepala sekolah jarang masuk.

“Dalam sebulan saja bisa dihitung berapa kali dia masuk. Siapa saja yang mau menjumpainya jarang bisa ketemu kalau di sekolah karena datang sekali sekali saja,” kata seorang siswa yang namanya tidak ingin disebutkan.

Penulis: Faisal

Editor: MAS