IBC, ACEH TENGGARA – Benteng Tugu Kutarih yang terletak di Desa Kutarih, Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara merupakan monumen bersejarah untuk mengenang tragedi para pejuang dalam melawan penjajah Belanda pada 14 Juni 1904 silam.

Pertempuran yang memakan ribuan korban jiwa dari pejuang Tanoe Alas saat memukul mundur Belanda menjadi bukti sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dari daerah tersebut.

“Pada tahun 1904 terjadi tragedi besar di Benteng Tugu Kutarih ini. Jumlah para pejuang yang sahid dibunuh oleh pasukan Gotfrie Coenraad Ernst Van Daalen adalah 1.773 laki-laki dan 1.149 wanita,” kata Gunawan yang merupakan salah seorang panitia perayaan HUT RI ke-74 saat ditemui awak media di Bale Buene, Senin (19/08/2019).

“Namun menurut Kempes dan Zentgraaff, saat perlawanan mengusir penjajahan Belanda korban dari para pejuang mencapai 4.000 jiwa,” tambahnya.

Tragedi ini adalah genosida pertama yang dilakukan Belanda di Indonesia. Peristiwa itu juga merupakan bentuk perlawanan Masyarakat Alas terhadap penjajahan Belanda dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

“Karena itu, sebagai generasi penerus bangsa melalui doa bersama ini kita tunaikan amanah para pejuang untuk menjaga persatuan dan kesatuan rakyat Kokohkan Pilar bangsa Indonesia dan suatu kewajiban bagi kami untuk selalu menjaga serta merawat peninggalan sejarah perjuangan,” tegas Gunawan.

Ia juga mengatakan, untuk mengungkap rasa syukur atas hasil perjuangan para leluhur dalam merebut kemerdekaan ini, sudah seyogyanya kita memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Menamkan serta mewujudkan nasionalisme pada diri seperti amanah para pejuang yang mengorbankan jiwa raga demi mengusir para penjajah di bumi pertiwi.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Tenggara Muhammad Ridwan saat ditemui awak media di ruang kerjanya menyampaikan, bahwa Pemerintah Daerah akan membuka kembali sejarah masa silam Benteng Tugu Kutarih.

“Kita harus membuka kembali sejarah silam untuk mengetahui latar belakang Benteng Tugu Kutarih secara pasti, sehingga dapat menjadi agenda tahunan yang dapat diperingati setiap tahunnya,” ujar Ridwan.

“Untuk mengumpulkan data-data dan bukti perlawanan masyarakat Alas terhadap Belanda, kita akan melakukan penelusuran ke Negeri Kincir Angin tersebut,” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan harapannya dalam mengangkat kembali sejarah perlawanan masyarakat Alas terhadap penjajahan Belanda, Dinas Pariwisata Provinsi Aceh dapat memberikan perhatian khusus.

“Kami sangat berharap kepada Dinas Pariwisata Provinsi Aceh agar memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan Tugu Benteng Kutarih sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” tandasnya.

Penulis: Iqbal