IBC, JAKARTA – Kasus skandal dugaan korupsi Simpang Lima Labungkari dalam waktu dekat ini akan dibawa ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh Ketua DPP Gerakan Indonesia Anti Korupsi (GIAK), Jerry Massie.

“Dalam waktu dekat lembaga kami akan membawanya ke ranah KPK,” katanya lewat pesan singkat WhatsApp yang diterima Redaksi Indonesia Berita di Jakarta, Rabu (27/8/2019) malam.

Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Buton Tengah dengan judul proyek “Penataan Kawasan Jalan Simpang Lima Labungkari” menyebutkan proyek tersebut memakan uang negara sebesar Rp 6,8 miliar, namun realisasinya proyeknya hanya empat simpangan.

Begitupun data Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Bupati Buton Tengah tahun 2018, Jerry menyebutkan kesepakatan dari hasil paripurna bahwa anggaran proyek tersebut sebesar Rp 4 miliar namun pada pelaksanaannya berubah menjadi Rp 6,8 miliar.

“Yang saya heran kok tender bisa berubah secara nominal loncat menjadi Rp 6,8 miliar yang anggaranya sudah diparipurnakan seharusnya hanya Rp4 miliar berarti ada permainan Rp 2,8 miliar rupiah,” imbuhnya.

Selanjutnya Jerry pun menduga, ada aktor yang memainkan kebijakan dilingkup elit Buton Tengah secara terselubung sehingga terjadi hal tersebut.

“Saya menduga Bupati Buton Tengah terlibat dalam skandal korupsi proyek Simpang Lima Labungkari bermain api dalam hal ini. Ini melanggar UU Tipikor No 31 Tahun 1999 dan No 20 Tahun 2001 dimana dalam hal ini sangat jelas terjadi abuse of power (penyalah gunaan kekuasaan). Ini ada permainan terselubung yang dilakukan secara masif dan sistematis.” jelasnya dengan sinis.

Dirinya meminta agar KPK untuk segera turun tangan mengusut kasus ini, dan memanggil oknum (pejabat elit Buton Tengah) yang terkait.

“Kami minta agar KPK turun (ke daerah). Panggil oknum-oknum terkait khususnya Bupati Buton Tengah, Legislator bahkan kontraktor, apalagi validitas data ada sama yang bersangkutan,” pinta Jerry.

Terakhir Jerry menyatakan kalau sudah ada bukti dan dua alat bukti kuat untuk menyeret oknum tersebut.

“Kan kalau sudah ada alat bukti apalagi dua alat bukti sudah kuat untuk menjerat oknum tersangka tersebut,” tutupnya.

Penulis: Agus
Editor: YES