IBC, TANGERANG – Latifah, seorang remaja putri yatim piatu berusia 18 tahun yang tinggal di Kampung Cituis RT 002/001 Desa Suryabahari Kecamatan Pakuhaji sekarang sedang terbaring kritis.

Mengidap penyakit paru-paru basah dan gizi buruk selama dua bulan, ia dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Pakuhaji.

“Untuk sekarang masih di UGD sudah dua hari belum masuk ruang kamar,” ungkap Sekretaris Jenderal Forum Aksi Mahasiswa (Sekjen FAM) Tangerang Rosyid Warisman kepada Indonesia Berita melalui pesan WhatsApp, Minggu (1/9/2019).

Ketika ditanya kenapa sudah dua hari di UGD belum dapat kamar? Rosyib dengan spontan menjawab alasannya penuh.

“Kamar penuh,” jawabnya spontan.

Menurut Rosyid penanganan dari rumah sakit tidak signifikan, seakan dibiarkan begitu saja belum ada kemajuan yang baik.

“Diterlantarkan sih tidak, hanya saja tidak ada penanganan intensif dari pihak rumah sakit kepada sang pasien. Padahal jika melihat diagnosa penyakitnya paru-paru dan gizi buruk serta kondisi sekarang begitu memprihatinkan dan harus segera mendapatkan perawatan ekstra,” tegasnya.

Rosyid menyatakan bahwa Latifah sudah dua bulan menderita penyakit tersebut dan tidak dibawa kemana-mana karena terkendala biaya.

“Sudah hampir dua bulan. Tidak dibawa kemana-mana lantaran tidak ada biaya. Jadi kondisinya sekarang di RSUD Pakuhaji merupakan penanganan pertama bagi si pasien,” sebutnya.

Selanjutnya Rosyid menjelaskan Latifah pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) bersubsidi.

“Iya namun administratif yang terlalu berlibet terkadang membuat enggan masyarakat untuk ke rumah sakit. Ditambah sang pasien yatim piatu dan itupun dibawa ke rumah sakit karena pihak RT setempat beserta warga yang membawanya karena kondisi si pasien sangat memprihatinkan,” jelasnya.

Pernyataan Rosyid diperkuat Renal kader FAM Tangerang yang melihat pasien langsung di RSUD Pakuhaji yang mengatakan masih ada orang yang mau membantu Latifah.

“Syukur Alhamdulillah masih ada orang yang mau membantu Latifah (18) untuk dilarikan kerumah sakit pada Sabtu (31/8/2019) kamerin, oleh seorang Ibu-ibu yang baik hati, bernama Ibu Upi dan sering dipanggi dengan sebutan Bunda Upi yaitu warga setempat,” kata Renal.

Renal menambahkan Ibu-ibu PKK dan masyarakat setempat masih menggalang dana untuk membantu Latifah.

“Dari kemarin (Sabtu, 31/8/2019 – red) Hingga sampai saat ini masih ada saja dari kalangan masyarakat yaitu Ibu-Ibu PKK dan pemuda/i untuk meminta bantuan kepada masyarakat setempat dengan cara penggalangan dana dan ada pula masyarakat yang berniat baik untuk membesuk dan membantu biaya wanita remaja tersebut lantaran keluarga berekonomi rendah,” tambahnya.

Penulis : AS/YES