IBC, JAKARTA – Pengamat Intelejen, Marsda TNI (Purn) Prayitno Ramelan dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Minggu (1/9/2019), mengatakan persoalan Papua bukan semata-mata persoalan hukum belaka, melainkan harus dilihat dari kacamata Intelejen Strategis (Intelstrat).

Pasalnya ia mengatakan, Kini greget dipertajam dengan simbol bintang kejora dikibarkan di depan Istana Merdeka (28/8/2019), Presiden Joko Widodo sebagai sebagai kepala negara atau end user pasti bertanya dan yang harus dijawab oleh Pimpinan Badan Intelejen.

“Gerakan masyarakat Papua di beberapa kota adalah masalah taktis tetapi harus dibaca dengan kacamata intelejen stategis, akan keliru apabila dibaca dengan masalah hukum belaka,”ujarnya.

Baca Juga : Pengamat Intelejen: Ada Campur Tangan Asing Terkait Masalah Papua.

Lebih lanjut ia menyampaikan, mengapa demikian? Kasus yang terjadi bukan sekedar solidaritas, represi terhadap orang Papua, melainkan bobotnya diperberat.

Selainya itu ia juga menuturkan, bahwa Koordinator aksi dimuka istana tegas menyatakan, “Rakyat Papua ingin mendapatkan haknya untuk menentukan nasib sendiri’, “artinya rakyat Papua ingin keterlibatan pihak ke-tiga, meniru lepasnya Timor Timur melalui referendum. Melihat geliat yang terjadi bila dibaca dengan kacamata interstrat berupa signal keras kepada pemerintah Indonesia terkait kebijakan politik luar negerinya.

Menurut Prayitno menambahkan, ada kekeliruan dalam pembacaan situasi politik luar negeri Indonesia, “kita meributkan dan turun tangan menggebu masalah Afganistan, Palestina, Rohingnya, tapi tidak membaca dan menyikapi kondisi geopolitik dan geostrategi di lingkungannya sendiri,” tegas Prayitno.

“Entah disadari atau tidak mau tahu, ada persaingan sengit komponen Politik, Ekonomi dan Pertahanan Kawasan Asia Pasifik antara China dan dengan AS yang terabaikan,” pungkasnya.

Penulis : FA/DR