IBC, MERANTI – Dugaan mark up anggaran dalam pelaksanaan pembangunan podium olahraga di Desa Tebun Kecamatan Rangsang Kabupaten Kepulauan Meranti oleh Pejabat (Pj) Kepala Desa, berbuah kritik tajam dari masyarakat.

Dikatakan oleh masyarakat setempat, selain diduga menggelembungkan anggaran dan dikerjakan dengan asal-asalan, Pj Kades juga menggunakan material bekas pada bangunan tersebut.

“Kami sangat menyesalkan dengan pembangunan podium seperti itu, dan menghabiskan dana begitu besar. Apalagi bangunan tersebut dibangun dengan tongkat bekas, kayu tidak diketam, dan menggunakan jenis kayu yang tidak kuat,” komplain warga yang namanya tidak ingin disebutkan dalam berita ini, Senin (2/9/2019).

Menanggapi hal ini Pj Kades Syahroni mengakui, tongkat yang digunakan adalah barang bekas. Menurutnya, penggunaan material bekas dalam pekerjaan pembangunan podium tersebut tidak jadi masalah.

“Kalau tongkat bekas MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) memang ada kami gunakan untuk tongkat podium. Tapi tongkat MDA itu kami beli sama kepsek (kepala sekolah) nya. MDA itu bukan bangunan pemerintah tapi bangunan swadaya masyarakat,” kata Syahroni melalui pesan WhatsApp.

Selain itu Syahroni juga mengatakan, tidak ada aturan yang mengatur harus barang baru atau barang bekas dalam pelaksanaannya, dan boleh melakukan penafsiran.

“Dalam RAB tidak ditentukan pakai tongkat baru/bekas. Karena dalam RAB tidak disebutkan tongkat cor. Maka kami menafsirkan boleh menggunakan tongkat bekas,” tambah Syahroni.

Pernyataan serupa juga dikatakan oleh Camat Rangsang, Tunjiarto. Kepada Indonesia Berita Tunjiarto membenarkan adanya tongkat bekas tersebut.

“Saya sudah dapatkan laporan dari tim saya yang turun ke lapangan, bahwa benar yang dilaporkan masyarakat itu adanya tongkat atau umpak tersebut adalah bekas, namun ada cerita lain di dalam penggunaan tongkat bekas itu, bahwa hasil penjualan akan dibelikan amplifier toa,” katanya.

Terkait ketegasan dari pihak kecamatan yang bertugas sebagai pengawas pelaksanaan proyek, Tunjiarto mengatakan, penggunaan material bekas tidak dapat ditolerir.

“Kami dari pihak kecamatan menegaskan itu tidak bisa dan harus diganti baru,” pungkas Tunjiarto.

Penulis: Noeradi/MAS