IBC, JAKARTA – Merespon keputusan Polda Jawa Timur yang menetapkan Veronica Koman sebagai tersangka, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan, bahwa penetapan tersangka menunjukkan pemerintah aparat negara tidak paham dalam menyelesaikan masalah.

“Papua yang sudah lebih dari 2 minggu ini menjadi pembicaraan publik. Akar masalah sesungguhnya adalah tindakan rasisme oleh beberapa anggota TNI dan penggunaan kekuatan berlebihan oleh kepolisian di asrama mahasiswa di Surabaya,” kata Usman Hamid di Jakarta, (4/9/2019).

“Kalau tuduhan polisi adalah Veronica ‘memprovokasi’ maka pertanyaan yang harus dijawab oleh polisi adalah siapa yang telah terprovokasi untuk melanggar hukum akibat dari postingan Veronica di Twitter tersebut,” sambungnya.

Justru lanjut dia, yang harus kepolisian fokuskan adalah pada orang-orang yang menghasut mereka yang datang mengepung dan melakukan persekusi disertai tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Setelah itu penting juga kepolisian untuk memeriksa anggotanya yang menembakkan gas air mata dan mendobrak pintu asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

Baca Juga : Dituduh Penyebar Hoax, VK Ditetapkan Polisi Sebagai Tersangka

“Kriminalisasi Veronica akan membuat orang lain takut untuk berbicara atau memakai media sosial untuk mengungkap segala bentuk pelanggaran HAM terkait Papua.

Menurut Usman, jika ada yang tidak akurat dari informasi yang diberikan oleh Veronica sebaiknya polisi memberikan klarifikasi bukan dengan mengkriminalisasinya. Pemerintah pun sebaiknya membuka akses semua pihak agar dapat memverifikasinya secara objektif.

Ia pun meminta kepada pihak Kepolisian daerah Jawa Timur harus segera menghentikan kasus tersebut dan mencabut status tersangka Veronica Koman.

“Kepolisian Negara Republik Indonesia harus memastikan bahwa semua jajarannya meghargai kemerdekaan berpendapat di muka umum dan juga di media sosial serta tidak dengan mudah melakukan pengusutan jika ada laporan terkait kemerdekaan berekspresi di masa yang akan datang,” tutupnya.

Penulis : FA/YES