IBC, TERNATE – Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PW AMAN) Maluku Utara mendesak agar PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menghentikan aktivitasnya di wilayah adat Tobelo Dalam Akejira, Kabupaten Halmahera Tengah.

Ketua PW AMAN Malut Munadi Kilkoda menjelaskan, aktivitas pembangunan infrastruktur jalan menuju hutan adat Akejira serta intervensi perusahan dan warga pesisir dalam bentuk penguasaan lahan melalui kaplingan, menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup Tobelo Dalam Akejira.

“Kami mendesak PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) untuk menghentikan seluruh aktifitas mereka di wilayah adat Tobelo Dalam Akejira dan mendesak PT (IWIP) untuk merehabilitasi kembali kerusakan hutan yang diakibatkan dari pembukaan jalan,” ujar Munadi saat konferensi pers di Ternate, Jumat (6/9/2019).

AMAN juga mendesak PT IWIP untuk mentaati hukum dan perjanjian internasional. Baik itu Konvensi ILO 169 maupun deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat yang mengharuskan setiap perusahan (tambang) tidak melakukan aktifitas yang dapat mengancam apalagi berakhir pada penghilangan identitas kelompok masyarakat adat.

“Kami Juga mendesak PT. IWIP untuk melaksanakan Free, Prior, Informed Consent (FPIC) terhadap segala bentuk kebijakan sebelum melakukan aktifitas yang berdampak pada kelangsungan hidup masyarakat adat. Dan mendesak PT IWIP untuk mentaati hukum Indonesia terutama Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 35/PUU-X/2019. Putusan ini menegaskan Hutan Adat Tobelo Dalam Akejira Bukan Hutan Negara,” tegas Munadi.

Menutup konferensi pers tersebut, Munadi meminta pemerintah setempat untuk mengambil kebijakan melindungi hak masyarakat adat suku Tobelo Dalam agar terhindar dari ancaman perusahaan.

“Kepada pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah untuk mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat Tobelo Dalam Akejira terhadap ancaman dari luar. Dan melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan kaplingan yang dilakukan kelompok masyarakat pesisir yang sudah merambah ke wilayah Tobelo Dalam Akejira,” tutupnya.

Sebelumnya, perusahaan pertambangan nikel tersebut telah melakukan aktivitas pembukaan lahan di bagian pesisir Weda Tengah yang meliputi Desa Lelilef Sawai, Desa Lelilef Woebulen, dan Desa Gemaf Kabupaten Halmahera Tengah. Target berikutnya adalah hutan Akejira, tempat dimana ruang hidup Tobelo Dalam.

Penulis: Gamal Marinyo/Mastobelo