IBC, JAKARTA – Terkait rencana pemerintah yang akan menaikan iuran BPJS Kesehatan dua kali lipat Komunitas Penggiat Kesehatan Living With Love (LWL) mengambil sikap tegas menolak.

“Kami menolak apapun alasannya pemerintah menaikan iuran BPJS Kesehatan,” tegas Ketua Komunitas LWL Debora Agustiana Rayo kepada Redaksi Indonesia Berita di kediamannya, Kamis (5/9/2019).

Selanjutnya Neng Hayati panggilan akrabnya meminta kepada Kementerian Kesehatan serta pihak BPJS untuk meninjau kembali kebijakan tersebut. “Kebijakan itu hanya akan memberatkan masyarakat dan nggak ada alasan juga BPJS Kesehatan untuk menaikan iuran,” imbuhnya.

Ditambah lagi untuk para pengguna BPJS Kesehatan berbayar harus terlebih dahulu membayar Iuran Wajib sebelum menggunakan Fasilitas Jaminan Sosial BPJS Kesehatan. Jadi tidak ada alasan bagi BPJS Kesehatan untuk menaikan Iuran,” tegas dia.

Lebih lanjut Neng Hayati mengatakan, BPJS Kesehatan seharusnya tidak menerbitkan System Indonesia Case Base Groups (INA-CBGS). “Sistem itu sebenarnya rentan dengan manipulasi, kami sangat menolak, apalagi sistem iuran BPJS Kesehatan dengan Auto Debit,” beber Neng.

“Pada dasarnya BPJS Kesehatan adalah sebuah Lembaga Sosial yang menjamin Kesehatan masyarakat yang sebenarnya menjadi tanggung jawab Negara,” tegasnya lagi.

Ia juga menyampaikan, dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan dua kali lipat nantinya peserta PBI akan meledak. “Beban pertanggungan Premi BPJS yang memberatkan justru akan membuat ledakan Peserta BPJS Kesehatan PBI kedepannya,” tutupnya penggiat kesehatan yang telah banyak menolong masyarakat ini.

Perlu diketahui System Indonesia Case Base Groups (INA-CBGS) merupakan sistem pembayaran dengan sistem ‘paket’ berdasarkan penyakit yang diderita pasien.

INA-CBGs merupakan sebuah model pembayaran yang digunakan BPJS Kesehatan untuk mengganti klaim yang ditagihkan oleh rumah sakit.

Rumah Sakit akan mendapatkan pembayaran berdasarkan tarif INA CBGs yang merupakan rata-rata biaya yang dihabiskan oleh untuk suatu kelompok diagnosis.

Misalnya, seorang pasien menderita demam berdarah. Dengan demikian, sistem INA-CBG sudah ‘menghitung’ layanan apa saja yang akan diterima pasien tersebut, berikut pengobatannya, sampai dinyatakan sembuh atau selama satu periode dirawat di rumah sakit.

Sistem pembayaran menggunakan Indonesia Case Based Groups (INA-CBGs) yang digunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak akan merugikan rumah sakit (RS) karena sebagian besar tarifnya diatas standar. Tarif cuci darah atau dialisis, misalnya, di RS kelas C Rp450-600 tapi di INA-CBGs dibayar Rp900 ribu, bahkan di RS kelas A dibayar Rp1,3 juta.

Penulis : FA/YES