IBC, JAKARTA – Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus memandang BJ Habibie lebih pantas disebut sebagai “Bapak Reformasi”, ketimbang tokoh lain seperti Amien Rais.

Sebab, sebagai presiden pertama pasca-reformasi, BJ Habibie memiliki kontribusi besar dengan mendirikan fondasi utama demokrasi baru Indonesia, demokrasi yang bermakna lebih hakiki.

“Banyak jasanya untuk membawa Indonesia menuju negara demokrasi seperti membuka keran kebebasan pers, membuka pintu munculnya banyak partai politik, menyiapkan regulasi pemilu demokratis pertama pasca orba,” ujar Peneliti Formappi beberapa waktu yang lalu.

Turut berduka atas meninggalnya Bapak Reformasi yang rendah hati, semoga amal dan baktinya diterima oleh yang Maha Kuasa.

Namun sangat disayangkan, kata Lucius, BJ Habibie tidak terlalu lama menjabat sebagai Presiden RI. “Dia tak mampu melawan kekuatan politik yang tak menyukai caranya memimpin. Mungkin inilah yang menjelaskan kenapa demokrasi kita hingga saat ini tak memperlihatkan perkembangan yang memuaskan,” ujar Lucius.

Lucius menambahkan, sebagai mantan RI-1, Habibie juga tidak maruk akan kekuasaan. “Dia tak memanfaatkan kekuasaannya agar bisa memperpanjang jabatannya sebagai presiden, tetapi dengan rela memberikan proses regenerasi pada sistem yang dibangunnya,” tutur dia.

Lucius menyatakan, BJ Habibie adalah pribadi yang rendah hati, sikap ini yang tidak banyak dimiliki figur pemimpin dalam negeri saat ini. Maka itu, dia merasa sangat perlu mengungkapkan duka cita yang mendalam atas wafatnya Presiden ke-3 RI BJ Habibie pada Rabu, 11 September 2019, pukul 18.05 WIB.

Sumber : Tagar.id