IBC, JAKARTA – Prestasi kembali diraih pemuda/pemudi Indonesia. Siti Nur Kholisah dan Suprihatin, peneliti muda Indonesia yang berasal dari SMA Negeri 1 Kedungpring, Lamongan, Jawa Timur, berhasil meraih medali emas di ajang Kompetisi Penemu Muda atau Young Inventors Challenge (YIC) yang diselenggarakan pada tanggal 21 September 2019, di Malaysian Global Innovation & Creativity Center (MAGIC), Cyberjaya, Malaysia.

Penelitian siswa Indonesia yang mendapatkan penghargaan medali emas di YIC 2019 mengenai foam yang berasal dari eceng gondok dan tepung singkong yang dirancang sebagai thermal insulator atau penahan panas dalam ruangan.

Jakarta
Foto : Istimewa

Temuan tersebut sesuai dengan tema yang diusung YIC tahun 2019, yaitu Sustainable Development Goals-12 (SDGs-12). Salah satu tujuan SDG’s adalah memastikan pola konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab terhadap lingkungan, sosial, dan budaya.

Ajang YIC 2019 diikuti 446 pendaftar berasal dari 10 negara di Asia, yakni Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, China, Timor Leste dan Indonesia.

Indonesia dalam ajang ini mengirimkan tiga tim untuk bersaing dengan 133 tim finalis lainnya. Ketiga tim Indonesia berasal dari tiga sekolah menengah atas, yakni tim ke-1 beranggotakan Siti Nur Kholizah dan Suprihatin dari SMA Negeri 1 Kedungpring, Lamongan, Jawa Timur dengan karya ilmiah yang berjudul Biofoam Engkong.

Tim ke-2 beranggotakan Safira Aprilia Safitri dan Esti Indriani dari SMA Negeri 1 Cisarua, Lembang, Jawa Barat dengan karya temuan inovasi yang berjudul “Nature Pot” (pot yang terbuat dari limbah media tanam jamur), dan tim ke-3 beranggotakan Noni Mila Ardani dan Ni Putu Ayu Ratna Dewi dari SMA Negeri Banua Kalimantan Selatan dengan karya temuan inovasi berjudul “Pake-Ka” (kertas yang terbuat dari daun Kalakai).

Delegasi Indonesia pada YIC 2019 terpilih melalui seleksi nasional pada ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) dan Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) tahun 2018.

Purwadi Sutanto, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas (PSMA) mengatakan, bahwa OPSI dan FIKSI merupakan ajang yang diselenggarakan oleh Direktorat PSMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertujuan untuk menjaring dan membina talenta muda di bidang penelitian dan kewirausahaan untuk siswa SMA.

Karya Siti Nurkholisah dan Suprihatin sangat relevan dengan permasalahan pada konteks global, yaitu fenomena pemanasan global. Temuan mereka dapat menjadi produk industri inovatif berbasis kearifan lokal, namun berdaya saing global,” terang dia melalui keterangan tertulisnya yang diterima IBC, Selasa (24/9/2019).

Penulis : FA/JRA