IBC, JAKARTA – Istilah ‘Buzzer’ akhir-akhir ini menjadi isu yang ramai diperbicangkan publik. Setidaknya, buzzer ini menjadi political weapon (senjata politik) untuk meruntuhkan lawan politiknya. Sepertinya ini bagian penggiringan dan penggorengan public opinion (opini publik).

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Political Public Policy Studies, Jerry Massie di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

“Dalam dunia marketing kita mengenal branding image atau merek. Kelompok buzzer bisa dibilang pintar memainkan merek dagang politik. Tak pelak, buzzer menjadi kunci kemenangan baik dalam president election (pemilihan presiden) bahkan pileg. Bisa juga bahkan bisa jadi sumber malapetaka,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, para gerombolan buzzer adalah politik bayaran yang menggerakan dan mempengaruhi publik lewat kicauan dengan mendukung seseorang di dunia sosial media.

Ilustrasi. Sumber Youtube

“Saat ini the spirit of buzzer kian menggurita selain the spirit of hoax. Tengok aja laporan yang dibuat peneliti Universitas Oxford mengungkapkan dana buzzer di Israel bisa mencapai 100 juta dollar AS, atau Rp 1,4 triliun,” ungkap Jerry.

Ia juga menuturkan, bahwa menurut laporan bertajuk “The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation”, pendengung Israel berada di level high capacity.

“Buzzer ini memang dibayar untuk jadi influencer. Artinya, buzzer di sana melibatkan jumlah besar, baik dalam sisi orang yang mengatur atau anggaran yang dipersiapkan untuk menyebarkan disinformasi,” kata dia.

Berdasarkan laporan dari peneliti Oxford, diketahui buzzer Israel merupakan tim berisi sekitar 400 orang, dan mendapatkan pelatihan formal.

Menurut Jerry, terkadang informasi tidak dianalisis lagi, tapi justru ditelan mentah-mentah oleh publik. Lantaran sambung Jerry, kurangnya sense of understanding jadi ini dimanfaatkan oleh gerombolan “buzzer”. Tapi lama-kelamaan bisa berubah jadi “buzzyet”.

“Saya teliti hampir setiap detik di grup baik itu Prabowo dan Jokowi terus muncul serangan membabi buta dengan hate speech and fake news (ujaran kebencian dan berita bohong atau palsu),” tambah Jerry.