IBC, YOGYAKARTA – Kejadian penusukan dilapangan Menes, Kamis, (10-10-2019) yang menyebabkan Kapolsek Menes, Kompol Dariyanto, ajudan Danrem 064/Maulana Yusuf (MY) Serda Yogi Wahono, dan mantan Sekertaris Pribadi (Sespri) Pak Wiranto yang juga ulama Mathla’ul Anwar (MA) Fuad Syauqi adalah tambahan bukti nyata bahwa sel-sel tidur teroris yang bangkit.

“Kejadian penusukan ini merupakan bukti nyata bahwa sel-sel tidur teroris yang bangkit,” kata Pendiri Rumah Studi Pancasila Rendra kepada IBC di Yogyakarta, Jumat (11/10/2019).

Rendra yang biasa disapa Moebidik ini mengungkapkan masih segar diingatan kita dari rentetan-rentetan kejadian dari kejadian napi teroris yang berulah di Rutan Salemba cabang Mako Brimob 8 Mei 2018, ini menjadi detonator bangkitnya sel-sel teroris yang lain.

“Itu terbukti berlangsungnya kejadian Mako Brimob, 4 orang terduga teroris berhasil dibekuk saat mereka menuju ke Mako Brimob tanggal 10 Mei  2018 atau saat kejadian masih berlangsung dan 2 diantaranya meninggal dunia karena melawan petugas. Dan keesokan harinya 2 wanita ditangkap karena diduga akan melakukan penusukan kepada anggota Brimob di Mako Brimob,” ungkapnya.

Tidak cukup berhenti disitu, menurut Moebidik kejadian demi kejadian tindakan teror bermunculan tidak berselang beberapa waktu di beberapa wilayah, minggu dinihari 4 terduga teroris di Cianjur di tembak Polisi.

“Masih dalam hari yang sama, pada pagi harinya bom bunuh diri meledak di 3 Gereja di Surabaya yang dilakukan oleh pimpinan JAD Surabaya beserta keluarga kecilnya (Istri dan 4 Anaknya), malamnya terjadi ledakan di rusun Wonocolo di Sidoarjo,” ucapnya.

Moebidik menambahkan tertangkapnya sel-sel teroris di beberapa kota, misal Kendal, Tegal, Semarang, Salatiga dan Jogjakarta, menjadi bukti tambahan.

“Bahwa setiap kejadian teror itu menjadi detonator sel lain untuk bangun dan melakukan tindakan teror,” tambahnya.

Selanjutnya Moebidik menadaskan sistem pencegahan maupun pemberantasan terorisme yang dilakukan pemerintah sudah sangatlah bagus, tapi memenag tidak dipungkiri sangatlah susah menebak kapan dan dimana mereka akan bereaksi.

“Karana meraka melakukan Jihad still of continue secara acak dan berdasarkan kapan mereka mau melakukan maupun menunggu momen yang dirasa tepat oleh mereka, dan juga setiap kali kejadian tindakan teror yang selalu di blow-up berulang entah melalui media apapun, misalnya sosial media yang di posting berulang-ulang, itu menjadi kebanggaan para teroris dan iklan gratis membantu meyebarkan teror atas tindakan mereka,” tandasnya.

Oleh karena itu, Moebidik menyatakan pemerintah dan juga mungkin dibantu oleh para ormas penggiat Pancasila harus lebih aktif dalam mensosialisasikan bahaya paparan radikalisme di tengah masyarakat, misal dalam acara temu warga di kampung-kampung.

“Jadi tidak cukup dengan iklan layanan masyarakat dan ataupun menjelaskan lewat media massa, sosial media dan tak lepas juga peran serta masyarkat,” tuturnya.

Terakhir Moebidik menegaskan kita bersama-sama memerangi radikalisme. “Sekali lagi, Mari kita bersama-sama memerangi Radikalisme,” tegasnya.

Penulis : Dovi Yati/YES