IBC, JAKARTA – Beberapa waktu yang lalu, Anggota Fraksi Partai Nasdem DPRD Provinsi DKI Jakarta, mengatakan bahwa Gubernur Anies Baswedan gagal menjalankan janji kampanyenya. Pasalnya banyak warga Jakarta tidak dapat mengakses sanitasi yang memadai.

Tak berselang lama, Pemerintah Pusat melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR turun tangan untuk mengatasi akses sanitasi dan air limbah di DKI Jakarta.

Tujuannya selain meningkatkan akses sanitasi di DKI Jakarta juga melindungi kualitas air dari pencemaran limbah domestik seperti mandi, cuci, kakus dan aktivitas rumah tangga lainnya.

Foto : AP/IBC

Begitu juga dengan warga Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara padat penduduk yang mengeluhkan airnya keruh, tidak layak digunakan untuk mandi, apalagi dimasak untuk diminum.

“Sudah sebulan lebih kami mengalami ini, airnya bau dan keruh nggak bisa buat mandi, ya apalagi buat dimasak,” ujar pria yang enggan disebutkan namanya ini.

Saat ditanya apa penyebabnya, pria ini belum mengetahui itu berasal dari PDAM atau Palyja. Setahunya, air keruh sejak adanya proyek pemerintah DKI Jakarta yang sedang merenovasi saluran Air.

Selain itu juga pria tersebut mengatakan, bahwa dengan keruhnya air tersebut, sehingga ia dan warga lainnya harus mengeluarkan kocek lebih untuk membeli air bersih. “Satu pikul 2 derijen, harganya Rp 5 ribu, nah sehari saya dan keluarga gunakan 4 pikul (8 derijen), jadi saya harus keluarkan uang 20 ribu per hari. Itu cuma untuk air bersih aja ya…,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia membeberkan, “tapi coba dikalikan 30 hari ya lumayan ya.. jadi 600 ribu,” sambungnya.

Ia dan warga berharap agar persoalan air keruh tersebut menjadi perhatian serius Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Sebab kata dia, pemerintah harus bertanggungjawab apalagi penyebabnya dari pengerjaan proyek saluran air.

Penulis : RK/MJ