IBC, JAKARTA – Maraknya peredaran barang palsu di Indonesia sudah mencapai puncak mengkhawatirkan, pasalnya menurut Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) negara mengalami kerugian Rp 65 Triliun.

Berdasarkan hasil surveinya barang-barang palsu tersebut terdiri dari, makanan dan minuman, Rp 13,39 Triliun, produk pakaian dan barang kulit Rp 41,58 Triliun dan seterusnya.

Selain itu MIAP juga mengungkapkan pemerintah kehilangan pendapatan dari pajak tidak langsung sekitar Rp 424 Miliar, seperti dilansir rakyat merdeka.

Sementara itu seperti dilansir dari laman resmi kemenperin.go.id, Menurut Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun yang mengatakan, akan meningkatkan pengawasan dan meminta penegak hukum untuk menindak peredaran barang palsu. Apalagi saat ini nilai kerugian negara sudah mencapai Rp 65 Triliun.

Dilain pihak seorang konsumen sebut saja namanya Rendi, yang merasa dirugikan akan adanya peredaran barang palsu mengatakan kepada IBC, bahwa ia merasa tertipu dan dirugikan akibat adanya barang-barang palsu, seperti barang yang ia beli tas kecil dengan merek Iphone seharga Rp 150 Ribu.

Menurutnya barang tersebut justru merugikannya, sebab kata dia, setahunya Apple tidak pernah mengeluarkan barang-barang seperti tas kecil yang ia beli dari salah satu toko terkemuka di Indonesia “Apalagi murah,” katanya.

Saat ditanya alasan membeli barang tersebut, ia menuturkan, “Awalnya saya dapet info dari kawan, cuma ingin tahu asli apa nggak tas itu, soalnya harganya murah banget, jadi sayang aja kalau benar itu asli malah dijual murah kaya barang KW aja,” pungkasnya, di Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Tas Merek Apple yang diduga kuat palsu. Foto : DR/IBC

Begitu juga dengan IBC saat melakukan investigasi ditoko tersebut, bahwa IBC menemukan merek-merek terkenal seperti Nike, Adidas, Louis Vuitton, Hugo Boss dan merek lain-lainnya, yang dijual dengan harga sangat murah dibandingkan dengan barang aslinya.

IBC juga membandingkan dengan barang asli merek Hugo Boss (baju kaos) yang dibanderol seharga Rp 2 Juta, sementara barang palsu di toko tersebut dibanderol dengan harga tidak sampai Rp 200 Ribuan.

Menurut pendapat seorang praktisi hukum, dan juga Ketua Lembaga Perlindungan Kosumen dan Ligkungan (LPKL), Kapriyani mengatakan, sebaiknya konsumen yang merasa dirugikan agar melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib. Sebab sambung Kapri begitu panggilannya, hal itu tidak boleh dibiarkan, ‘Karena itu jelas sudah melanggar aturan dan merugikan negara,” imbuhnya.

Kapri juga menambahkan, pihaknya siap untuk mendampingi konsumen yang merasa dirugikan tersebut, untuk lebih lanjut melaporkan kepada pihak berwajib, bahkan kata Kapri, bila perlu pihaknya akan menggugat hingga ke pengadilan.

Hingga berita ini diterbitkan, pemilik toko pakaian terkemuka tersebut enggan memberikan komentar saat dimintai konfirmasinya melalui pesan singkat WhatsAppnya.

Penulis : RK/DS