IBC, JAKARTA – Presiden Jokowi telah mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju. Sebanyak 38 Posisi menteri dan pejabat setingkat menteri sudah dibagi. Reaksi publik pun beragam.

Terlebih manakala tidak adanya kader NU yang jadi menteri di Kabinet Jokowi 2019-2024. Padahal, banyak kader NU yang dirasa layak dan memiliki kemampuan sebagai pembantu presiden, serta telah berjuang mati-matian menghantarkan Jokowi sebagai Presiden RI periode kedua.

Lantas apa reaksi Pemuda Pelopor Nadhdlatul Ulama (PP-NU), selaku organ relawan Jokowi-Ma’ruf Amin yang menaungi ribuan pemuda pelopor dan nahdiyin di Indonesia dengan nomor register 360/JKW-MA/IX/2018 ini?

Gus Tunggak. Foto : Ist

Berikut petikan wawancara terhadap pembina organ relawan PP-NU Budi Kasan Besari Adinegoro, yang dikenal juga dengan panggilan Gus Tunggak di sela-sela Istighosah Doa untuk Kabinet Indonesia maju dan ijazah Kubro Hizib Nashor di halaman PBNU, Jalan Kramat Raya No 164, Jakarta, Rabu (30/08/2019) kemarin.

Bagaimana komentar Gus terkait kabinet Indonesia Maju yang tidak mengadopsi kader NU?
Politik NU adalah politik kebangsaan dan NU tidak pernah meminta-minta jatah atau berambisi mengisi kabinet, karena itu semua hak prerogatif Presiden.

Kan presiden tidak mengadopsi kepentingan NU Gus?
Tidak penting itu, yang penting negara kita masih dalam kerangka NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Banyak kyai-kyai yang gelisah karena tidak ada keterwakilan NU di kabinet?
Soal keterwakilan kan sudah ada kyai Makruf Amin sebagai Wakil Presiden, hehehe.

Bagaimana bisa menjamin kepentingan NU, kalau tidak ada menteri nya, Gus?
NU itu biasa berjuang sendiri, mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri tidak tergantung kepada Menteri toooh.

Bagaimana NU ke depan Gus?
NU ke depan, kalau hari ini Wapres, ya ke depan harus Presiden. Jadi nggak nunggu dibagi, tapi nanti NU yang membagi.

Penulis : FA/SD