IBC, LEBAK – Kondisi jembatan gantung yang menjadi penghubung antara dua Kecamatan yaitu Banjarsari dan Kecamatan Gunungkencana, Lebak Banten kondisinya sangat memperihatinkan. Saat siswa pergi ke sekolah harus bertaruh nyawa untuk melintasi jembatan reyot tersebut.

Jembatan panjang 70 meter dengan kedalaman 10 meter terletak di Desa Lewi Ipuh menjadi satu-satunya akses utama untuk siswa yang akan berangkat menuju Sekolah.

Saat ini kondisi jembatan gantung yang terbuat dari batang bambu dengan diikat oleh sambungan kawat kecil sudah tidak layak untuk dilewati. Beberapa bagian jembatan untuk pegangan keselamatan terlihat sudah mulai berjatuhan. Hal itu tentu membuat pengguna yang akan melintasi harus ekstra berhati-hati.

Siswa/i SD Melewati ‘Jembatan Maut?’ Menuju Sekolah., di Lebak, Banten, Kamis (31/10/2019). Foto : RHM/IBC

Jembatan yang biasa dilewati oleh ratusan warga di Desa Lewi Ipuh tersebut, tak hanya digunakan untuk keperluan akses pendidikan, warga yang mayoritas bekerja sebagai buruh dan petani di perkebunan kelapa sawit juga setiap hari kerap menggunakan jembatan reyot tersebut.

Menurut mereka jembatan yang ada di sana sebagai alat penopang utama untuk perekonomian. Sementara untuk perawatan dan perbaikan mereka hanya mengandalkan hasil swadaya dan gotong-royong. Pasalnya bantuan perbaikan dari pemerintah pusat sendiri maupun daerah tidak pernah ada dan tidak pernah terealisasi.

Berdasarkan pantauan IBC di lokasi, Kamis (31/10/2019), puluhan siswa sedang ekstra berhati-hati untuk menyebrangi jembatan reyot tersebut. Mereka meniti dua bambu menempel dikawat terbentang diatas sungai.

Satu-per satu generasi penerus bangsa itu menyeberang memanfaatkan kedua tangan untuk memegang pegangan bambu dengan kuat, selanjutnya kedua kaki berpijak diatas batang bambu reyot yang sudah diikat untuk tiba diseberang sungai.

Seorang Siswa SD Berpegangan Menyeberangi ‘Jembatan Maut?‘ di Lebak, Banten. Kamis (31/10/2019). Foto : RHM/IBC

Aktifitas seperti itu kerap kali dilakukan oleh puluhan siswa di SDN 2 Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Banten. Hal itu mereka lakukan setiap kali saat akan berangkat dan pulang sekolah. Seandainya siswa tak berani melintasi jembatan reyot dan bambu yang sudah keropos tersebut, para siswa harus memutar berjalan kaki dengan jarak sekitar lima kilometer untuk sampai ke sekolah mereka.

Selanjutnya, pada saat musim hujan tiba, kondisi air akan meluap dan terkadang banjir sehingga jembatan menjadi licin tertutup oleh air. Sementara itu pada saat musim kemarau kondisi dibawah jembatan terlihat batu-batu besar yang memang sangat menakutkan seandainya terjatuh.

Diakui Neneng (11) warga dari Kampung Cigedang, Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari mengatakan, bahwa dirinya setiap hari bersama puluhan teman-temanya sering melewati jembatan gantung untuk pergi ke sekolah yang kondisinya reyot.

Siswa/i Berjuang bertaruh nyawa demi sekolah melalui “Jembatan Maut?”, di Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari, Lebak, Banten. Foto : RHM/IBC

Menurutnya ia juga sempat deg-degan dan takut ketika sudah berada di pertengahan jembatan, karena kondisi bambu untuk berpegang sudah berjatuhan, dan kawat untuk pengikat bambu sudah banyak yang putus.

“Jarak dari rumah sangat jauh kalau memutar dan harus melewati jembatan kalau seandainya ingin dekat. Bisa sampai satu jam kalau muter, kalau melintas ke sini, paling 30 menit,” kata Neneng.

Hal yang sama diungkapkan Friska (11) siswa SDN 2 Lewi Ipuh mengaku terpaksa melewati jembatan reyot itu, karena seandainya kalau tidak melewati jembatan tersebut kondisi waktu juga lebih lama.

Tapi seandainya kondisi banjir atau musim hujan, Friska sendiri tidak berani melintasi jembatan sendirian karena kondisi jalanan dan jembatan yang sangat licin.

Di tempat yang sama Dede (38) warga Kampung Cigedang, Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari mengaku bahwa jembatan penghubung di tiga desa itu sudah puluhan tahun tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Menurutnya kalau seandainya cuaca sedang hujan kondisi sangat menakutkan dan berbahaya untuk dilalui. Bila jembatan rusak perbaikan hanya dilakukan oleh warga.

“Padahal kami yang tinggal di Cigedang kalau seandainya ada keluarga meninggal sering kali membawa jenazah dan dikuburkan di seberang sana. Artinya kita gunakan jembatan ini untuk dilewati bersama jenazah yang telah meninggal. Tempat makamnya berada di seberang,” ungapnya sambil menjuk ke arah tanah pemakaman umum warga Cigedang.

Reporter : RHM
Penulis : RK/SD