IBC, JAKARTA – Tewasnya 10 warga sipil saat melakukan aksi unjuk rasa di Bawaslu, Jakarta Pusat dan Kalimantan Barat, 21-23 Mei 2019 yang lalu, menuntut hasil pemilihan presiden (Pilpres) masih menimbulkan misteri siapa pelaku penembakan sesungguhnya.

Akibat hal tersebut Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM) membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) yang selanjutnya disebut Tim Pencari Fakta Komnas HAM.

Sumber Siaran Pers Komnas HAM

Menurut kesimpulan Tim Pancari Fakta Komnas HAM dalam keterangan pers resminya diterima redaksi IBC beberapa waktu yang lalu, bahwa setidaknya ada beberapa kesimpulan.

Pertama, kesepuluh (10) yang tewas tersebut akibat luka tembak dengan peluru tajam, yang tersebar dalam sembilan titik lokasi berjarak cukup jauh dalam waktu yang hampir bersamaan.

Halaman 2, Siaran Pers Tim Pencari Fakta Komnas HAM

Masih dalam kesimpulannya, bahwa pelakunya adalah orang terlatih dan profesional dalam menggunakan senjata api. Itu pun menunjukkan bahwa pelaku tidak satu orang.

Kedua, empat (4) yang meninggal adalah anak-anak, sehingga patut diduga ada upaya menjadikan anak-anak sebagai korban dan sasaran kekerasan untuk memancing emosi massa.

Halaman 3, Siaran Pers Tim Pencari Fakta Komnas HAM

Ketiga, Polri berkewajiban untuk menemukan dan menuntaskan penyelidikan dan penyidikan atas peristiwa jatuhnya korban jiwa, khususnya untuk menemukan dan memproses hukum para pelaku lapangan dan pelaku intelektualnya.

Jika polisi gagal mengungkap peristiwa pengungkapan penembakan yang memakan korban jiwa, maka publik akan terus terancam karena adanya penembak gelap yang terus berkeliaran di tengah masyarakat.

Halaman 4, Siaran Pers Tim Pencari Fakta Komnas HAM

Membiarkan pembunuhan terjadi tanpa ada melakukan upaya hukum terhadap pelaku adalah pelanggaran HAM yang serius, karena membiarkan perampasan atas hak hidup terjadi.

Sementara itu yang keempat, pelaku penembakan terhadap HR (15) di Jalan Kemanggisan Utama, Jakarta Barat yang telah teridentifikasi ciri-cirinya harus segera ditindaklanjuti oleh Polri dengan langkah penyelidikan dan penyidikan yang profesional, transparan, dan efektif agar informasi atas pelaku semakin terang benderang.

Halaman 5, Siaran Pers Tim Pencari Fakta Komnas HAM

Begitu juga yang kelima, korban RS (15) di Pontianak Kalimantan Barat, yang diduga tewas kerana tertembak, penyidik telah memiliki petunjuk berupa pistol rakitan jenis revolver dan rekaman CCTV ketika korban dibawa ke rumah sakit. Bukti ini harus segera ditindak lanjuti agar titik terang terhadap pelaku dan pihak lain, dapat segera diperoleh.

Oleh karenanya TPF Komnas-HAM merekomendasikan, kepada Presiden RI untuk mengupayakan dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah terulangnya kembali peristiwa serupa dengan Peristiwa 21-23 Mei 2019.

Demi tujuan itu presiden perlu memastikan Polri menindaklanjuti proses hukum terhadap semua pelaku yang telah mendorong terjadinya kekerasan dalam peristiwa tersebut.

Halaman 6, Siaran Pers Tim Pencari Fakta Komnas HAM

Selain itu juga TPF merekomendasikan agar membenahi sistem Pemilu dan Pilpres agar menjadi lebih baik dan ramah HAM, terutama mendorong partai-partai politik untuk lebih mengutamakan program politik dan mencegah penyebaran kebencian (hate speech) dalam proses pemilu dan pilpres.

Penulis : DB/AS