IBC, KAMPAR – Pendidikan tingkat Menengah Atas atau SMA Negeri 1 yang berada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar, Riau cukup memprihatinkan. Kebijakan yang diterapkan oleh pihak pemerintahan dinilai tanpa perencanaan yang matang.

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang digalakkan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan (Kemdikbud) meninggalkan polemik bagi pihak sekolah. Pasalnya ketersediaan komputer yang difasilitasi pihak pemerintahan belum memadai untuk digunakan bagi jumlah siswa disekolah tersebut.

Kepala sekolah SMA Negeri 1 Kampar Kiri Hulu ketika ditemui reporter IBC pada kesempatan beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ketersediaan komputer untuk mengikuti UNBK masih belum cukup. Ketersediaan komputer hanya mampu menampung sebanyak 60 siswa, sedangkan total jumlah siswa sebanyak 90 siswa.

“Unit komputer disekolah hanya ada 20 unit, dengan sistem 3 sesi ujian maksimal perharinya,maka itu hanya cukup untuk 60 siswa,sedangkan 30 siswa lagi terancam tidak bisa mengikuti UNBK jika unit tidak segera ditambah,” jelas Emtua selaku Kepala Sekolah kepada IBC.

Diwaktu yang berbeda, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Rusdianto menyampaikan dibeberapa media online mengatakan, secara tegas bahwa pihak sekolah dilarang melakukan pemungutan dengan dalih apapun kepada siswa.

Menyikapi larangan tersebut, Emtua mengatakan akan berimbas bagi siswa nantinya tidak bisa mengikuti proses UNBK.

“Kita dilarang memungut, tetapi solusi untuk itu tidak ada, kami pihak sekolah tentu tidak mungkin diam membiarkan murid-murid kami tidak bisa mengikuti proses UNBK,” jelas Emtua yang dibenarkan oleh staf SMA Negeri 1 Kampar Kiri Hulu ketika ditemui di ruang kerjanya.

Minimnya perhatian pemerintah terhadap SMA Negeri 1 Kampar Kiri Hulu tidak kepada ketersediaan unit komputer saja, melainkan pelatihan sumber daya manusia (SDM) yang tidak kunjung disetujui.

Menurutnya pelatihan tersebut sangat penting, karena mempengaruhi tenaga pengajar untuk membuat buku LKS (Latihan Keterampilan Siswa).

Berdasarkan dari pantauan IBC, Rabu (13/11/2019), Sekolah yang berada juah dari ibu kota kabupaten itupun terlihat masih berlantaikan tanah dan minim ruangan kelas. Sejak tahun 2003 kelas tersebut diakuinya belum pernah dilakukan adanya rehab.

Untuk mensiasati kurangnya ruang kelas tersebut, pihak sekolah terpaksa harus membongkar ruang guru menjadi ruang laboratorium sekaligus ruangan komputer. Menjadi pemandangan tersendiri ketika melihat kelokasi sekolah Negeri tersebut para tenaga pengajarnya berkumpul disudut-sudut pojok kelas.

Penulis : FSL : Editor : SD