IBC, SURABAYA – Puluhan pelajar Kota Surabaya, Jawa Timur, yang tergabung dalam Gerakan Pelajar Indonesia menggelar kegiatan diskusi dan bedah buku bertajuk “Refleksi Gerakan Pelajar dan Bedah Buku Lelaki di Di Tengah Hujan” di sentra buku Kampoeng Ilmu, Surabaya, Minggu (29/12/2019) malam.

Dalam paparannya, Inisiator Gerakan Pelajar Indonesia, Fadil Wiratama (17), menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk melakukan refleksi gerakan pelajar sepanjang tahun 2019 kemarin.

Sebab, menurutnya, gerakan pelajar telah menunjukkan capaian yang luar biasa. Mereka dinilai mampu memberikan warna baru dalam konstelasi gerakan rakyat yang sekian lama telah dibungkam.

Fadil menyampaikan, pelajar memang sudah memiliki peran besar terhadap sejarah Indonesia, khususnya sejak proses perebutan kemerdekaan. Menurutnya, sejarah gerakan pelajar Indonesia dalah sejarah perjuangan melawan pembodohan dan penindasan.

“Intelektual muda dan pelajar tidak pernah diam melihat keadaan riil sekitar yang tidak berpihak pada apa yang telah diajarkan kurikulum, setidak-setidaknya kemanusiaan,” ujarnya.

Fadil mengakui, dibalik besarnya keterlibatan gerakan pelajar dalam rangkaian aksi sepanjang 2019 kemarin terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki lagi kedepannya.

Ia menilai, gerakan kemarin masih belum terorganisir dengan baik. Semua kelompok bergerak secara sporadis dan tidak terpimpin. Hal itu mengakibatkan gerakan pelajar mudah dilemahkan.

Bahkan, gerakan tersebut dipandang masih berbasis pada gerakan moral dan solidaritas. Ke depan, gerakan ini diharapkan mampu menjadi gerakan revolusioner yang bergerak dalam satu wadah dan cita-cita sama.

“Perlu dibentuk organisasi di tingkat pelajar yang mampu mengisi kepala para pelajar sehingga tidak sebatas gerakan moral semata,” tandas Fadil.

Dalam kesempatan yang sama, Penulis Novel Sejarah Lelaki Di Tengah Hujan, Wenri Wanhar, mengapresiasi munculnya gerakan pelajar dalam sejumlah rangkaian aksi sepanjang tahun 2019 kemarin.

Ia mengungkapkan, para pendiri bangsa yang menjadi tokoh-tokoh besar dalam pergerakan merebut kemerdekaan Indonesia awalnya berangkat dari gerakan pelajar.

“Siapa yang sangka seorang pelajar Surabaya yang mondok di rumah seorang Tjokroaminoto di Gang Peneleh tidak jauh dari tempat ini, di kemudian hari menjadi salah satu tokoh sentral yang memimpin perjuangan kemerdekaan di Indonesia,” ungkapnya.

Wenri menuturkan, Soekarno, salah satu tokoh kemerdekaan Indonesia, saat masih menjadi pelajar di Surabaya sudah aktif berdiskusi dengan kawan-kawannya. Dalam diskusi itu, mereka menyusun cita-cita bersama untuk selanjutnya diperjuangkan secara konsisten bersama-sama.

“Hingga pada akhirnya mereka mampu membangun kesadaran rakyat untuk melawan kolonialisme dan mencapai Indonesia merdeka,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Pusat Posko Menangkan Nasional, Willy Soeharly yang juga hadir dalam diskusi itu menilai bahwa sistem pendidikan nasional saat ini menjadikan pelajar Indonesia tidak memiliki kesadaran terhadap kemajuan bangsanya.

Ia memandang, kurikulum pendidikan hanya mempertahankan dan mengedepankan mental inlander (memproduksi dan memperpanjang barisan perbudakan) saja.

Parahnya lagi, sistem hukum warisan kolonialisme Belanda menjadikan rakyat Indonesia sebagai objek penindasan aparatur negara semenjak dahulu.

“Sistem politik juga hanya memberikan ruang kekuasaan di tangan modal dan terus menempatkan rakyat sebagai obyek legitimasi saja,” tutupnya.

Untuk informasi, narasumber yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah Wenri Wanhar (Penulis Novel Sejarah “Lelaki Di Tengah Hujan”), Fadil Wiratama (Gerakan Pelajar Indonesia), Willy Soeharly (Sekretaris Pusat Posko Menangkan Pancasila) serta M. Sholikhudin dan Djoko Permono (Aktivis ’98).

Penulis: FD| Editor: HK