IBC, JAKARTA – Hampir setiap waktu Cina melakukan okupasi ekonomi di laut Natuna utara yang juga di klaim Cina sebagai Nine Dash Line (sembilan garis putus).

Artinya apa? Cina bukan saja melakukan pendekatan militer tapi juga menguatkan setiap saat pendekatan ekonomi nya. Bahkan Cina telah mengembangkan Kepulauan Spratly untuk pariwisata.

Demikian disampaikan Direktur Maritim Research Institute Makbul Muhammad dalam keterangan tertulisnya, yang diterima redaksi, Minggu (5/1/2020).

Foto : Capture IG TNI

“Menurut saya pendekatan ekonomi jauh lebih berani dalam bermain di wilayah sengketa. Cukup bersenjatakan alat tangkap ikan,” ujar Makbul.

Lanjutnya, bahwa mengingat kegagalan Indonesia atas Pulau Sipadan dan Ligitan, bukan karena militer Indonesia tidak mampu melakukan ekspansi kepada Malaysia, namun karena pengaruh ekonomi Malaysia lebih kuat tertancap di pulau tersebut.

Baca Juga :

“Sekarang, sejauh mana kita mamanfaatkan Natuna Utara dalam pendekatan non militer? Laut yang begitu kaya sehingga negara-negara asing hilir mudik memanfaatkannya,” kata dia.

Makbul juga menyarankan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), untuk membuat kebijakan khusus yang serius untuk melakukan pemanfaatan laut Natuna Utara.

“Kirimlah nelayan-nelayan tangguh kita yang di fasilitasi oleh negara yang setiap waktu mengibarkan bendera merah putih di laut Natuna Utara,” pungkasnya.

Penulis : AI|Editor : SD